Home / BERITA TERBARU / Pemotor yang Baik Itu Pemotor yang Kreatif dan Tidak Arogan

Pemotor yang Baik Itu Pemotor yang Kreatif dan Tidak Arogan

Ilustrasi sepeda motor yang ‘safety riding’. Pengendara baik adalah pengendara yang selalu safety riding dan mentaati aturan lalu lintas. (Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM – Pecinta otomotif khususnya roda dua memang tak pandang usia. Tak sedikit pula anak remaja kini membuat dan tergabung dalam suatu komunitas, apalagi setelah kehadiran sinetron televisi tentang geng motor.

Namun sayangnya, karena masih belum dapat menahan ego dan tingginya pengaruh luar, kebanyakan dari mereka tergolong arogan saat berkendara. Lantas pemotor seperti apa ya yang baik?

Salah satu member Bikers Brotherhood MC (BBMC) Indonesia asal Tasikmalaya, Uyung Aria mengungkapkan bahwa pemotor yang baik ialah yang dapat berkreativitas sehingga hobinya bermanfaat.

“Kalau remaja itu dia ada faktor hormonal. Dalam artian dia ingin dipandang lebih dari yang lain, superior. Sedangkan prestasi di sekolah kurang jadinya beralih ke jalanan. Lantas ingin beli motor gede atau sport tapi karena mahal, akhirnya rubah suara knalpot yang bising. Alhasil ganggu tetangga,” ujar Uyung saat berbincang dengan detikOto di Tasikmalaya, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

“Sebenarnya banyak momentum yang dapat kita curi dalam bermotor. Kreatif. Seperti menggambar atau melukis motor. Waktu itu saya pernah lakukan dengan Mak Iyah, pelukis Payung Geulis. Sederhana sih, tapi karena belum ada yang lakukan, jadi seolah ‘wah’,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, ia pun mengaku prihatin atas kelakuan pemotor yang berkumpul untuk lakukan balapan liar dan menggunakan knalpot dengan suara besar. Menurutnya, masih banyak hal yang dapat dilakukan dan dimanfaatkan dengan bermotor.

“Janganlah pakai motor untuk diganti knalpot yang berisik atau balap liar. Masukkan kreativitasmu dengan bermotor karena banyak sekali yang dapat dilakukan dengan roda dua tersebut seperti mengadopsi potensi sekitar. Kuncinya ialah kreatif dan laksanakan,” ujar Uyung.

Misalkan, tambahnya, para pemotor berkerja sama dengan pihak literasi untuk mendistribusikan buku ke beberapa sekolah dan perpustakaan terprencil. Atau dalam hal donasi, dan masih banyak lagi.

“Semua itu bisa dilakukan, digabungkan sesuai dengan ide kita. Nggak usahlah balapan karena kan sudah ada contohnya sampai meninggal gitu. Itu tuh konyol karena diri kita lebih berharga dari pada itu,” tutupnya. (Detik)