Home / ACEH / Didepan Bupati Rocky, FKL Paparkan Kendala Pembangunan Barrier

Didepan Bupati Rocky, FKL Paparkan Kendala Pembangunan Barrier

Manager FKL, Rudi Putra, saat memaparkan kendala pembangunan barrier gajah di Aceh Timur, Senin, 9 Oktober 2017. (Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Pembangunan barrier (pembatas-red) yang bertujuan untuk meredam konflik gajah dan manusia di Kabupaten Aceh Timur menemui beberapa kendala. Tahun lalu, Pemkab Aceh Timur bersama Forum Konservasi Leuser (FKL) telah mencanangkan pembangunan barrier sepanjang 48,9 KM dengan lebar 4 meter dan kedalamannya mencapai 5 meter.

Manager FKL, Rudi Putra, dalam laporannya mengatakan bahwa rencana pembangunan barrier tahap awal sepanjang 12 kilometer, dalam pengerjaannya ternyata menjadi 25 kilometer. Selain itu, beberapa kendala yang menghambat pembangunan barrier antara lain yakni, tingginya curah hujan dalam setahun terakhir dimana tercatat terjadi sebanyak 103 kali sehingga barrier runtuh dan harus dibangun kembali.

Meski dibangun demi kepentingan umum, namun ternyata pembangunan barrier juga mendapat penolakan dari masyarakat. Mereka beralasan, barrier melintasi lahan yang telah mereka garap (kebun). Selain itu pembangunan barrier juga terkendala akibat adanya aksi perambahan hutan (illegal logging) di sepanjang jalur proyek pengerjaan. Para pelaku perambahan hutan merasa terganggu dengan adanya aktivitas pembangunan barrier sehingga tidak bisa dengan leluasa menjalankan aksinya.

“Selain beberapa kendala tersebut, kendala lain juga kita dapati dari pihak perusahaan perkebunan yang sama sekali belum memulai pembangunan barrier. Ini akan semakin menghambat upaya penyelesaian konflik gajah dan manusia di Aceh Timur,” ujar Rudi Putra di depan Bupati Aceh Timur H. Hasballah HM.Thaib dan sejumlah pejabat terkait lainnya dalam pertemuan di komplek Pusat Perkantoran Pemkab Aceh Timur, Senin, 9 Oktober 2017.

(Zamzami Ali/Klikkabar)

Baca: Kembali Bahas Konflik Gajah Liar, BKSDA dan FKL Temui Bupati Aceh Timur

FKL selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga donor yang aktif memberikan dukungan dan bekerjasama guna mengatasi konflik satwa liar (gajah-red) yang terjadi khususnya di wilayah Aceh Timur. Pertemuan tersebut juga dilakukan, mengingat peran Bupati Aceh Timur sebagai salah satu unsur tim penanganan masyarakat akibat konflik satwa liar dan manusia.

Ditambahkan Rudi, pembangunan barrier yang telah selesai dibangun baru 5 kilometer. Di sepanjang jalur barrier, pihaknya sudah menanam bambu untuk memperkuat struktur tanah di bawah barrier. Selain itu, pihaknya bersama masyarakat juga telah menanam beberapa jenis tumbuhan yang tidak disukai gajah seperti salak dan jeruk nipis di sekitar barrier.

Penanaman tersebut dijelaskannya bisa menjadi alternatif atau pagar hidup, agar gajah liar tidak lagi mendekati pembatas alam yang telah dibangun sehingga pemukiman penduduk akan terbebas dari gangguan gajah liar yang habitatnya selama ini telah dirusak oleh para ‘penjarah’.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut antar lain yaitu Bupati Aceh Timur H. Hasballah HM.Thaib, Asisten II Setdakab Aceh Timur Usman A. Rachman, Manager FKL Rudi Putra, Manager Lapangan FKL Tezar Pahlevie, Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo, Ka TU BKSDA Aceh Handoko, Kasi BKSDA Wilayah I Dedi Irvansyah dan sejumlah kepala SKPK serta pejabat terkait lainnya.

BACA JUGA: Bangun Barrier, Cara Aceh Timur Cegah Konflik Gajah dan Manusia

Inilah Titik-titik Penghalang Gajah Liar di Aceh Timur