Home / ACEH / Polisi Amankan 21 Ton Kayu Hutan Lindung di Aceh Timur

Polisi Amankan 21 Ton Kayu Hutan Lindung di Aceh Timur

Wakapolres Aceh Timur, Kompol Apriadi, S. Sos, saat melihat hasil sitaan kayu dari hutan lindung yang diamankan di Mapolres setempat. (Zamzami Ali/Klikkabar).

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Pihak Kepolisian Resort Aceh Timur berhasil mengamankan sedikitnya 233 batang kayu illegal yang diduga hasil perambahan hutan lindung di kawasan pedalaman Aceh Timur.

Wakapolres Aceh Timur Kompol Apriadi, S. Sos saat mengelar konferensi pers di Mapolres setempat, Selasa, 10 Oktober 2017 mengatakan, kayu dari berbagai jenis dan ukuran tersebut diamankan pada 25 September 2017 lalu di pedalaman Aceh Timur tepatnya di Desa Melidi, Kec. Simpang Jernih.

Kayu-kayu yang diperkirakan memiliki berat sekitar 21,08 ton itu terdiri dari kayu jabon, ceremai dan tampu. Diduga, kayu-kayu tersebut diambil dengan cara merambah area hutan lindung alias tidak memiliki izin. Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan instansi terkait mengenai area penebangan yang telah dipastikan berada di kawasan terlarang.

“Kita telah memeriksa sejumlah saksi-saksi, tapi pemilik kayu berinisial AB, belum bisa kita mintai keterangan karena yang bersangkutan dalam kondisi sakit-sakitan,” ujar Kompol Apriadi, S. Sos.

(Zamzami Ali/Klikkabar)

Sementara itu, Kompol Apriadi menambahkan bahwa, sejatinya kayu-kayu tersebut tidak akan bermasalah jika diambil atau ditebang di hutan produksi maupun di kebun milik sendiri dengan menempuh prosedur yang telah ditetapkan. Tindakan illegal logging juga dikatakannya, selain merusak lingkungan juga dapat memicu bencana alam seperti banjir, longsor dan konflik satwa liar yang selama ini kerap terjadi di Aceh Timur khususnya.

“Jika hutan dirusak, kehidupan satwa akan menjadi terganggu. Konflik satwa liar juga akan semakin memperparah keadaan disamping bahaya bencana alam yang setiap saat bisa mengancam,” demikian tutup Kompol Apriadi, S. Sos.

BACA JUGA: FKL: Sebagian Besar Kayu Illegal Logging Dibawa Keluar Daerah

FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia