Home / BERITA TERBARU / Ruud Van Nistelrooy, Mesin Gol yang Terbuang

Ruud Van Nistelrooy, Mesin Gol yang Terbuang

KLIKKABAR.COM – Memiliki penyerang yang rajin mencetak gol merupakan idaman sebuah kesebelasan. Jika penyerang tersebut mencetak banyak gol maka kans untuk meraih kemenangan, atau lebih jauh dalam meraih gelar juara, akan semakin besar. Namun hal itu tak berlaku saat Manchester United mengandalkan Ruud van Nistelrooy di lini depan.

Kemampuan mencetak gol Nistelrooy merupakan salah satu yang terbaik pada awal 2000-an. Bukti sahihnya adalah torehan 150 gol dari 219 penampilannya bersama MU. Sebuah statistik yang menunjukkan ketajaman penyerang asal Belanda tersebut.

Namun dalam lima musim membela MU, Nistelrooy nyatanya hanya sekali saja mempersembahkan gelar juara Premier League. Bahkan ia total hanya mempersembahkan empat trofi saja untuk MU. Tidak ada trofi Liga Champions, yang ada “hanya” gelar juara Piala FA, Piala Liga, dan Community Shield.

Cukup ironis memang mengingat Nistelrooy saat itu merupakan penyerang idaman banyak kesebelasan. Gelontoran golnya tak mampu membuat MU merajai Eropa. Apalagi kebersamaannya bersama MU pun berakhir tragis karena diakhiri oleh seorang pemuda yang mampu membuktikan diri bisa lebih memberikan kesuksesan bagi tim: Cristiano Ronaldo.

Mesin Gol Idaman Setiap Klub

Nistelrooy bergabung dengan MU pada 2001. Saat itu ia memecahkan rekor transfer termahal MU dengan nilai transfer 19 juta poundsterling dari PSV Eindhoven. Pria kelahiran 1 Juli 1976 itu masih berusia 24 tahun saat direkrut MU.

Berusia 24 tahun masih tergolong muda pada saat itu. Dan keputusan Nistelrooy membela MU pun karena ia yakini bisa berkembang bersama MU. Apalagi MU saat itu dilatih oleh Sir Alex Ferguson, manajer legendaris MU, yang tak ragu memainkan pemain muda.

Nistelrooy direkrut MU dengan catatan dua kali membawa PSV juara Eredivisie alias divisi teratas Liga Belanda. Selain itu ia juga merupakan pencetak gol terbanyak Eredivisie selama dua musim berturut-turut pada 1998-2000. Penampilan impresifnya menjelang milenium baru tersebut membuatnya diganjar dua kali penghargaan pemain terbaik Belanda.

Ferguson sebenarnya sudah cukup lama memantau perkembangan Nistelrooy. Pada 2000, MU bahkan sudah menjalin kesepakatan dengan PSV atas pembelian Nistelrooy. Namun saat itu Nistelrooy gagal lolos tes medis karena diketahui menderita cedera lutut. MU kemudian menunda proses transfer tersebut, namun Ferguson langsung menemui Nistelrooy untuk meyakinkan dirinya bahwa ia akan tetap dibeli MU ketika ia sudah sembuh.

“Kami sudah sepakat soal persyaratan (yang diberikan PSV untuk mendapatkan Nistelrooy) tapi saya kaget ia gagal lolos tes medis,” ujar Fergie pada otobiografi terbarunya Leading. “Kami menunda proses transfer tersebut, tapi saya langsung terbang ke Belanda untuk menemuinya. Saya memberi tahunya jika cedera lutut bisa disembuhkan. Saya juga meyakinkannya untuk tidak bergabung ke klub lain.”

Yang membuat Ferguson semakin tertarik merekrut Nistelrooy adalah setelah ia mendapatkan rekomendasi dari anak tertuanya, Darren Ferguson, setahun kemudian. Saat itu Darren melihat Nistelrooy ketika dirinya menjalani trial di kesebelasan Belanda, Heerenveen.

“Darren kembali dan berkata pada saya, ‘Rekrutlah Nistlerooy secepatnya. Ia sangat luar biasa’,” kata Ferguson. “Lalu saya berkata, ‘kami sedang memantaunya’. Kemudian Darren bilang, ‘Bagus, segera rekrut dia [Nistlerooy]’. Hari Sabtu setelah pembicaraan itu saya mengirim orang untuk melihatnya bermain, dan langsung bertemu dengan manajemen PSV. Kami pun merekrutnya keesokan harinya.”

Tiga tahun sebelum itu, PSV sendiri mendapatkan Nistelrooy dengan harga 4,2 juta poundsterling saja dari Heerenveen. Namun dalam tiga musim di PSV, Nistelrooy menunjukkan perkembangan yang pesat sebagai pemuda berusia 20 tahunan. Dari sini Fergie tak ragu menggelontorkan uang yang banyak untuk mendapatkan tanda tangan Nistelrooy.

Nistelrooy kemudian menjelma menjadi mesin gol Manchester United. Ia bermain hanya untuk mencetak gol. Dalam buku Leading, Ferguson juga menceritakan bagaimana betapa kecewanya Nistelrooy jika ia tidak mencetak gol. Yang ada dalam pikiran Nistelrooy hanya gol, gol, dan gol.

“Ketika ia tidak mencetak gol, meski kami menang, seperti ada awan gelap yang mengitarinya. Ia bahkan merasa tidak layak digaji jika tak mencetak gol. Setelah kami mengalahkan Everton pada 2003 dan memastikan juara liga, ia langsung berlari ke kamar ganti hanya untuk mencari tahu siapa yang menjadi pencetak gol terbanyak; dia atau Thierry Henry. Semuanya langsung berubah ketika ia mengetahui bahwa ia yang menang,” kenang Fergie.

Dalam lima musim, torehan gol Nistelrooy selalu mencapai dua digit. Torehan terbaiknya pada musim 2002/2003 ketika ia mencetak 44 gol dari 52 penampilan. Torehan terburuknya ketika pada musim 2004/2005 ketika ia “hanya” mencetak 16 gol dari 27 penampilan. Dengan total 150 gol dalam lima musim, Nistlerooy telah menjawab kepercayaan Fergie.

Ruud van Nistelrooy.

Tinggalkan MU Gara-Gara Cristiano Ronaldo

Pada 2006, Nistelrooy hijrah ke Real Madrid. MU melepas penyerang yang juga sering disebut Ruudtje ini dengan harga yang terbilang murah untuk mesin gol seperti Nistelrooy; sekitar 12 juta poundsterling. Padahal saat itu usianya memasuki usia emas seorang pesepakbola, 29 tahun. Torehan gol Nistelrooy pada musim terakhirnya bersama MU pun tak buruk, 24 gol dari 47 penampilan.

Ada kisah tak mengenakkan yang menjadi penyebab Nistelrooy dijual MU. Dan ini ada kaitannya dengan Cristiano Ronaldo. Bahkan bisa dibilang, Ronaldo-lah yang menyebabkan Nistelrooy ditendang Ferguson.

Ronaldo bergabung dengan Manchester United pada 2003, setelah MU juara Premier League bersama Nistelrooy. Sejak awal kedatangannya, Ronaldo tak ragu untuk menunjukkan rasa percaya dirinya yang tinggi. Bahkan para senior di MU agak kurang nyaman dengan kepercayadirian berlebih dari Ronaldo.

“Bloody hell, bocah ini,” ujar Gary Neville, bek kanan MU saat itu seperti yang dikutip Telegraph. “Ia berjalan dengan dada membusung. Ia sangat percaya diri. Tatapannya langsung menuju mata Anda. Saya melihatnya seperti Eric Cantona. Bahkan saat ia datang ia langsung berkata, ‘Jangan terlalu berlebihan, di sinilah tempat saya seharusnya’.”

Nistelrooy pun kemudian merasakan ketidaknyamanan atas kehadiran Ronaldo. Ia bahkan sempat mengatakan ingin pindah pada awal 2005 lewat agennya, Rodger Linse, karena merasa MU tidak punya kans juara Liga Champions dengan pemain muda seperti Ronaldo dan Wayne Rooney.

Puncak ketidaksukaan Nistelrooy terhadap Ronaldo adalah setiap Ronaldo bermain, Nistelrooy menjadi lebih sedikit mendapatkan peluang. Ia pun secara terang-terangan mengakui tidak menyukai Ronaldo yang saat itu masih menjadi pemain sayap.

“Saya tidak bisa bermain dengan anak ini [Ronaldo],” ujar Nistelrooy. “Ia bahkan tidak bisa memberi umpan silang. Saya tidak bisa menunjukkan kualitas saya karena ia tidak akan memberikan umpan silang.”

Hal ini diamini oleh kiper MU saat itu, Edwin van Der Sar. Menurut Van Der Sar, Nistelrooy memang lebih suka pemain sayap yang bisa memanjakannya dengan umpan-umpan matang. “Saya pikir Ruud terbiasa dengan David [Beckham] yang selalu memberikan umpan silang ketika bola ada di kakinya. David tidak punya kecepatan untuk dribble untuk melewati lawan, Ronnie [Ronaldo] punya kecepatan dan bisa melakukan beberapa trik untuk melewati lawan.”

Karena hal ini juga Nistlerooy sering bersitegang dengan Ronaldo. Bahkan sebenarnya tidak hanya dengan Ronaldo, tapi juga dengan pemain lain yang membela Ronaldo. Salah satunya adalah Rio Ferdinand. Bahkan sebuah insiden terjadi menjelang final Piala Liga 2005/2006 ketika MU akan menghadapi Charlton Athletic. Saat itu Nistelrooy harus duduk di bangku cadangan karena Fergie lebih memilih Ronaldo untuk susunan pemain.

“Mereka [Ronaldo dan Nistelrooy] seringkali beradu argumen,” ungkap Ferdinand pada otobiografi Cristiano Ronaldo yang ditulis Guillem Balague. “Suatu waktu, Ruud Van Nistelrooy menendang Ronaldo, dan setelah itu saya menendang Ruud untuk sedikit melindungi Ronaldo. Kemudian Ruud melayangkan tinju pada saya, tapi ia gagal.”

Selain karena permainan Ronaldo yang membuatnya tak nyaman, Nistelrooy juga tak nyaman dengan Ronaldo yang sangat dekat dengan asisten pelatih sekaligus orang kepercayaan Fergie, Carlos Queiroz. Intriknya dengan Queiroz juga-lah yang membuat Fergie saat itu tak memilihnya pada laga melawan Charlton dan lebih memilih Louis Saha sebagai penyerang utama. Nistelrooy, seperti yang diakui Fergie dalam bukunya, bahkan mengumpat pada Fergie karena saat itu ia tidak memainkannya melawan Charlton. Dari situlah Fergie dengan yakin menjual Nistelrooy setelah musim berakhir.

***

Nistelrooy saat ini menjadi pelatih tim muda PSV Eindhoven setelah sempat menjadi asisten pelatih timnas Belanda yang dilatih Louis van Gaal di Piala Dunia 2014. Nistelrooy memutuskan pensiun pada usia 36 tahun pada 2012 lalu setelah satu musim membela Malaga, kesebelasan yang ia bela setelah dua musim di Hamburg SV.

Di usia 30-an, kemampuan Nistelrooy dalam mencetak gol memang semakin menurun. Setelah meninggalkan MU, hanya dua musim ia bahagia di Real Madrid. Setelah dua kali ia mengantarkan Real Madrid juara La Liga dengan total torehan 53 gol, dua musim terakhirnya di Real Madrid berakhir bencana.

Pada musim 2008/2009, ia hanya bermain sebanyak 12 kali dengan torehan 10 gol. Pada musim 2009/2010, Nistelrooy hanya bermain sebanyak empat kali saja, yang kemudian ia memutuskan pindah ke HSV. Selain karena ia semakin dimakan usia, penyebab kariernya yang menukik di Real Madrid adalah pembelian penyerang anyar yang sampai memecahkan rekor transfer dunia. Pemain tersebut adalah Cristiano Ronaldo, “musuh” pria Belanda yang pada tanggal 1 Juli ini berulang tahun ke-41 itu. (Detik)