Home / BERITA TERBARU / [OPINI] September Kelam, Mengenang 17 Tahun Kepergian Sang Rektor

[OPINI] September Kelam, Mengenang 17 Tahun Kepergian Sang Rektor

OLEH : SAYED FUADI*

ADA deretan luka, yang mungkin akan terus membekas untuk mengenang suatu peristiwa saat konflik melanda Aceh tempo dulu. Nyawa begitu murahnya demi kepentingan politik. Rasa persaudaraan dan kasih sayang seperti terjeda sejenak, tanpa basa basi untuk saling tegur sapa.

Semua cara dihalalkan untuk sesuatu hal yang semu. Begitu kejamnya cara sebahagian mereka yang tak tau arti Islam sesungguhnya. Yang diketahui saat itu hanyalah opsi menang atau kalah, sedangkan benar atau salah tak begitu penting.

Sebagai generasi kesekian kampus biru, mungkin peristiwa penembakan Alm Bapak Prof Safwan Idris selaku mantan rektor kami saat itu, menjadi satu cacatan sejarah yang tak mungkin terlupakan.

Bagaimana tidak, selain sebagai seorang profesor, beliau juga merupakan mantan rektor, beliau juga salah satu intelektual handal yang sangat berpengaruh untuk Aceh.

Tak ada yg bisa membayangkan untuk seorang akademisi serta alim ulama, yang secara hakikat guru bagi setiap insan, tapi harus menghembuskan nafas terakhir secara mengenaskan akibat terjangan tembakan butiran timah panas alias peluru.

Yang menjadi lokasi peristiwa berdarah inipun terjadi bukan disemak-semak hutan belantara. Melainkan di rumah/kampus bagi setiap individu penuntut ilmu.

Sebenarnya kisah ini diungkapkan bukan untuk menguak luka lama. Tapi lebih kepada sebuah catatan yang mengisahkan tentang bagaimana lemahnya keamanan negeri ini saat itu.

Mungkin kesilapan dan kelalaian yang tak terduga bisa kita tolerir, namun lambannya proses pengungkapan kebenaran, serta terkesan tak terpedulikan dengan kasus yang sedemikian rupa tragis. Ini yang membuat kami selaku anak ideologi Alm kembali bertanya. Ada apa dan kenapa pembunuh ayah kami sampai hari belum diketahui indetitasnya.

Disini sebenarnya bukan balas dendam juga yang ingin dituntut, akan tetapi tanda tanya besar yang harus terjawab kenapa saat itu mereka tega membunuh Prof Safwan Idris. Apa motiv yang melatarbelakanginya, sehingga itu semua menjadi pelajaran bagi calon-calon intelektual Aceh berikutnya dalam menekenuni kesehariannya sebagai pengajar tanpa tanda jasa.

Oleh karena demikian 17 tahun sudah peristiwa ini terjadi. Yang kami harapkan hanya kebenaran serta terlukisnya lembaran baru untuk Alm ayahda kami. Sehinga tak ada lagi suatu rahasia/misteri dibalik pernah berdarahnya kampus biru. Untuk pak prof selamat jalan, semoga Allah tempatkan disisi yang mulia. Amin.

*Penulis merupakan Demisioner Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry dan Koordinator Forum Politik Cerdas Berintergritas Aceh