Home / ACEH / [OPINI] ‘Cambuk’ Jokowi untuk Aceh

[OPINI] ‘Cambuk’ Jokowi untuk Aceh

OLEH : RIAN F SYAFRUDDIN*

KLIKKABAR.COM – BELAKANGAN ini berita mengenai modifikasi  hukuman cambuk menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Aceh, khususnya di sosial media. Ini berpunca dari obrolan ringan dalam pertemuan makan siang Presiden Jokowi dengan Gubernur & Wakil Gubernur Aceh, pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Aceh, perwakilan ulama, dan Wali nanggroe di Istana Negara.

Kemudian beredar lah kabar bahwa presiden meminta modifikasi hukuman cambuk, dan ada pula yang berpendapat bahwa inisiatif itu datang nya bukan dari Presiden, tapi dari Pak Gub sendiri.

Namun, marilah kita mencoba tidak terjebak dan terlalu fokus dengan kabar yang masih simpang siur ini.  Toh, Pak Wagub pun yang ikut hadir dalam pertemuan itu telah menyatakan di salah satu media online bahwa rencana modifikasi itu tidak benar. Apalagi, dalam pertemuan itu ada perwakilan Ulama, perwakilan adat yg diwakili Wali nanggroe, dan Pimpinan DPR Aceh. Tidak mungkin mereka akan diam saja ketika eksistensi syariat Islam terancam.

Insya Allah sampai saat ini, saya masih yakin dan percaya bahwa Ulama kita di Aceh mampu menjaga Umara dalam menjaga Pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh.

**
Yang justru menarik perhatian dan harus menjadi fokus adalah pertemuan setelah itu, Rapat terbatas soal pelaksanaan proyek strategis nasional dan program prioritas yang dipimpin langsung oleh presiden dan dihadiri oleh Gubernur dan wakil gubernur Aceh.

Dalam pertemuan yang turut dihadiri hampir seluruh Menteri stategis tersebut, Pemerintah Pusat menunjukkan keseriusan dalam menggenjot pertumbuhan pembangunan Aceh. Pusat seakan sedang ingin menekankan bahwa Pusat mengakui keistemewaan dan kekhususan Aceh. Presiden berharap dengan Keistimewaan dan Kekhususan ini Aceh mampu menjadi warna dan berkontribusi dalam upaya pembangunan nasional.

Modal kekayaan sumber daya alam dan potensi yang dimiliki Aceh jika dikelola dengan baik dianggap mampu meningkatkan pemerataan pembangunan yang nantinya akan menekan angka pengangguran yang saat ini masih cukup tinggi. Dalam rapat tersebut Pusat berkomitmen terhadap percepatan proyek-proyek insfratruktur di Aceh seperti pembangunan bendungan, pembangkit listrik, dan insfrastruktur Kawasan Ekonomin Khusus Arun.

Meskipun demikian, Presiden juga menggaris bawahai masih ada Pekerjaan rumah yang cukup besar untuk diselesaikan. Ini memerlukan Kerja keras semua pihak, terutama Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Angka pertumbuhan ekonomi yang masih rendah merupakan gambaran nyata kondisi kesejahteraan Rakyat saat ini. Bahkan, Presiden menggunakan paparan data pertumbuhan Ekonomi yang rendah ini sebagai pengantar pada Rapat terbatas tersebut. Ini harus menjadi perhatian khusus tentunya.

**

Undangan makan siang di Istana yang dilanjutkan rapat terbatas ini dapat dimaknai sebagai langkah awal keseriusan pemerintah pusat dalam ‘memperhatikan’ Aceh.

Disisi lain, Keseriusan ini seakan menjadi “Cambuk” nyata bagi Aceh, khususnya pemimpin Aceh yang baru. Jokowi seakan ingin memecut semangat dan menantang masyarakat Aceh untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan Nasional.Pemimpin dan Rakyat Aceh harus bahu membahu menghadapi ‘cambukan’ dari Jokowi ini.

Pemimpin tak boleh berjalan sendiri, dan rakyat pun tak boleh hanya menanti. Manfaatkan momentum ini menjadi saluran ide-ide kritis kita sebagai rakyat. Kawal terus seluruh janji dan komitmen pemerintah. Cerewet lah dalam terus ingatkan pemangku kebijakan untuk mengawal komitmen pembangunan ini. Mari bersama fokus pada hal-hal yang konstruktif untuk mewujudkan Aceh yang membanggakan. Buktikan bahwa Bangsa Aceh punya warna dan mampu mewarnai pembangunan Nasional.

*Penulis merupakan pemuda Panton Labu Aceh Utara yang saat ini berdomisili di Jakarta, ia juga alumni UNSW Sydney Australia.