Home / ACEH / Urgensi Pelestarian Terumbu Karang di Perairan Aceh

Urgensi Pelestarian Terumbu Karang di Perairan Aceh

 

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH- Terumbu Karang adalah habitat berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Selama satu tahun rata-rata karang hanya dapat menghasilkan batu karang setinggi 1 cm saja. Jadi selama 100 tahun karang batu itu hanya tumbuh 100 cm, demikian disampaikan HUMAS Aceh Tracker Sayyid M.Chaidir Al-Mahdali.

Pertumbuhan karang dimulai dari proses reproduksi, dari hasil pembuahan akan menghasilkan larva. Sekumpulan karang tersebut disebut terumbu karang. Manfaat terumbu karang adalah sebagai sumber makanan ikan karena mengandung protein yang tinggi.

Selain pencemaran sampah berbahan anorganik yang akan mengancam spesies laut yg dilindungi seperti Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di beberapa kawasan perairan Aceh khususnya di sekitar pesisir pantai timur dan barat, ancaman kerusakan laut lainnya adalah berkurangnya terumbu karang atau terdegradasi akibat prilaku negatif yang melakukan penangkapan ikan atau hasil laut lainnya dengan cara-cara yang ekstrim seperti menggunakan bom ataupun Potassium sianida yang langsung merusak ekosistem laut, kata Sayyid dalam keterangan pers yang disampaikan kepada Klikkabar.com.

Di salah satu kawasan perairan di pesisir Aceh katanya, berdasarkan amatan Aceh Tracker terdapat beberapa spot terumbu karang yg mengalami kerusakan akibat penggunaan Potassium Sianida saat menangkap udang Lobster. Kandungan dari zat kimia berbahaya bagi lingkungan tersebut mampu melumpuhkan atau mematikan Lobster sehingga mudah ditangkap secara langsung.

Aktivitas penangkapan secara illegal dengan racun Potas biasa disebut di wilayah perairan Indonesia bukanlah hal baru. Kondisi ini apabila dibiarkan terjadi terus menerus tentu akan mengancam kelestarian lingkungan dan kelangsungan makhluk hidup di dalamnya.

Demikian juga dengan penggunaan bom ikan. Sebab efeknya tidak hanya berakibat kematian ikan-ikan, akan tetapi mengakibatkan kerusakan ekosistem di sekitarnya, termasuk terumbu karang dengan perbandingan satu kilogram bom ikan rata-rata mampu merusak terumbu karang seluas 500 meter persegi, lanjutnya.

Transplantasi karang dapat dilakukan untuk berbagai tujuan diantaranya adalah pemulihan kembali terumbu karang yang rusak serta untuk perluasan kawasan terumbu karang yang dapat dimanfaatkan untuk kepariwisataan dan penelitian.

“Adapun transplantasi terumbu karang seperti pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat baru,” ungkap mantan ketua IPPAT ini.

Pada dasarnya, satu-satunya langkah dalam upaya mereduksi kerusakan ekosistem laut, diperlukan beberapa langkah strategis dalam menanganinya khususnya secara simultan.

Selain transplantasi untuk konservasi, baik Pemerintah maupun non-Pemerintah  harus konsisten melakukan upaya-upaya perlindungan (advokasi) dengan pola-pola menetapkan zonasi kawasan (konservasi) terumbu karang secara periodik dalam fase rehabilitasi serta meningkatkan interaksi dan sosialisasi dengan unsur pemangku adat dan kelompok-kelompok nelayan agar tercipta kesamaan orientasi, persepsi dan konsistensi pelestarian lingkungan untuk kebaikan di masa mendatang.

Selain Pulau Weh dan sekitarnya, kawasan-kawasan spot terumbu karang lainnya seperti di Kepulauan Banyak, Singkil, Pulau Simelue dan sekitarnya, Pantai Barat dan Pantai Timur Aceh juga menuntut perhatian dan wujud militansi kita bersama untuk melakukan pelbagai usaha mereduksi apapun ancaman kerusakan wilayah perairan Aceh.

Sejalan dengan itu menurut Aceh Tracker penting untuk membangun komitmen yang berintegritas dalam upaya pelestarian terumbu karang di perairan Aceh dengan melakukan pendekatan-pendekatan berbasis preventif maupun persuasif.

Aceh Tracker telah memulai observasi spot-spot kerusakan terumbu karang di Perairan Aceh untuk pemetaan kawasan terumbu karang yang terdegradasi sekaligus menjadi referensi analisis guna merumuskan langkah-langkah yang diperlukan dalam giat pelestarian terumbu karang perairan utara Pulau Sumatera, demikian pungkasnya.