Home / ACEH / Operasi Besar-besaran Dimulai, Warga Aceh di Malaysia Diminta Waspada

Operasi Besar-besaran Dimulai, Warga Aceh di Malaysia Diminta Waspada

Ilustrasi razia di Malaysia @IST

KLIKKABAR.COM, MALAYSIA – Pihak Imigresen Kuala Lumpur akan menggelar operasi besar-besaran bagi para pekerja ilegal yang akan dimulai pada Sabtu 1 Juli 2017 tengah malam.

Juru Bicara Gerakan Aceh Nusantara (GAN) Khairul Ishak meminta seluruh warga asal Aceh yang bekerja di Malaysia yang untuk lebih berhati-hati serta mencari perlindungan agar tidak ditangkap.

“Imigrasi akan menggelar operasi besar-besaran bagi warga negara asing yang tidak memiliki dokumen serta Enforcement Card’ (E-Kad) supaya bisa menghindar dan lebih berhati-hati untuk menghindari penangkapan,” kata Khairul Ishak yang juga berdomisili di Malaysia pada Jumat 30 Juni 2017.

Ia juga meminta bagi yang punya dokumen resmi agar selalu membawa dokumen yang valid ketika berpergian untuk menghindari salah tangkap.

“Bagi pekerja ilegal supaya mendaftar program pulang sukarela, karena selain berbiaya lebih murah, mereka juga tidak harus dipenjara dan bisa pulang melalui depo imigresen,” himbau pemuda asal Pasee Aceh Utara tersebut.

Ia berharap bagi majikan yang yang memperkerjakan tenaga kerja ilegal supaya bertanggung jawab.

“Majikan harus melindungi para pekerja, kita minta majikan supaya membuat pengurusan agar mereka bisa dipulangkan lewat jalur resmi,” minta Khairul lagi

Seperti diketahui ada sekitar 600 ribu warga Aceh yang bekerja di Malaysia, namun hanya sedikit yang punya dokumen resmi.

Sementara itu kepala Perlindungan WNI KBRI Kuala Lumpur, Yusron B Ambary, meminta para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) agar tidak meremehkan ancaman Imigrasi Malaysia untuk melakukan razia besar-besaran terhadap pekerja ilegal.

“TKI untuk berhati-hati menghindarkan diri dari segala hal yang tidak diinginkan bersama,” kata Yusron

Selain itu Yusron juga berharap Pemerintah Malaysia tidak hanya menyasar pekerja ilegal, tetapi juga para pihak yang mempekerjakan pekerja secara ilegal.

“Keluhan yang sering kami dengar petugas juga merazia TKI resmi. Petugas tidak mau tahu melihat keabsahan dokumen. Prinsipnya mereka menangkap dulu dibawa ke depo setelah itu diperiksa dokumennya. Ini saya sudah minta keberatan ke pemerintah Malaysia,” katanya.

Berdasarkan data KBRI Kuala Lumpur permohonan penerbitan paspor Republik Indonesia program “rehiring” dengan e-kad Pemerintah Malaysia di KBRI Kuala Lumpur mencapai 2.045 orang.

“Permohonan masuk 2.045 orang, permohonan yang diluluskan 2.019 orang, sedangkan permohonan ditolak 26 orang,” ujar Atase Imigrasi KBRI Kuala Lumpur, Mulkan Lekat.

Sebelumnya Kepala Imigrasi Malaysia, Datuk Seri Mustafar Ali merasa kecewa karena hanya 131,269 pekerja ilegal yang memanfaatkan program permohonan kartu sementara (e-kad) dari yang ditargetkan 400 ribu hingga 600 ribu.

Karena itu, Mustafar mengancam akan melakukan razia kepada pekerja ilegal besar-besaran mulai 1 Juli 2017 di seluruh negara bagian Malaysia.

“Kami telah melakukan sosialisasi kepada TKI agar memanfaatkan e-kad sebagai izin kerja sementara, tetapi ternyata menjelang berakhirnya program e-kad 30 Juni 2017 ini ternyata total hanya ada 130 ribuan orang pendaftar e-kad, jumlah tersebut jauh sekali dari ekspektasi Imigrasi Malaysia yang mengaharapkan 400 hingga 600 ribu pendaftar,” katanya. (rel)