Home / ACEH / Ternyata Perjanjian Damai RI-GAM Mengandung Prinsip Islam

Ternyata Perjanjian Damai RI-GAM Mengandung Prinsip Islam

IST

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Tgk, H. Ajidar Matsyah, Lc., MA memberikan hadiah buku karya terbarunya kepada Gubernur Aceh, Zaini Abdullah yang berjudul perjanjian Helsinki 2005, model penyelesaian konflik abad 21 dalam tinjauan perspektif siasah syariyah, Jum’at sore, 23 Juni 2017 bertempat di Pendopo Gubernur Aceh.

Ajidar Matsyah melalui Ruslan, M.LIS selaku editor buku dalam rilisnya kepada Klikkabar.com mengatakan, perjanjian damai atau MoU Helsinki 2005 di Aceh secara subtansinya ternyata mengandungi prinsip-prinsip Islam. Ini dijumpai sejak dari proses perbincangan sampai ke meja perundingan hingga menjadi Nota Kesepahaman antara Pemerintah RI-GAM.

Adapun prinsip Islam yang terkandung dalam proses perbincangan MoU Helsinki adalah prinsip mediasi atau al-wisatah.

Kesepakatan mesti adanya pihak ketiga untuk memantau pelaksanaan butir kesepakatan damai Helsinki antara GAM dan RI tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Pihak ketiga non-muslim dibolehkan dalam al-Qur`an dan pernah dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w. selama tidak menyangkut masalah akidah.

“Memang sebagian Ulama berpendapat bahwa itu haram karena masih ada cara lain selain meminta bantu kepada Non-Muslim. Pendapat ini sudahpun terjawab, bahwa konflik Aceh terjadi sudah tiga puluh tahun lebih tetapi para Ulama tidak ada yang dapat memberikan solusi apapun tentang bagaimana cara menyelesaikannya melainkan membiarkannya larut dalam peperangan. Oleh itu, pihak ketiga dari Non-Muslim dalam perjanjian damai di Aceh sudah tidak ada cara lain, dan ini dibenarkan oleh Islam,” tutup Ruslan. []