Home / BERITA TERBARU / Kenakalan Remaja yang Semakin Merajalela, What’s Happen?

Kenakalan Remaja yang Semakin Merajalela, What’s Happen?

 

Oleh: Durratul Islami

KLIKKABAR.COM- Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mulai mencari jati dirinya. Terdapat berbagai pengertian dari remaja, salah satunya menurut (Santrock, 2003) yang mengatakan bahwa Adolescene (remaja) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional.

Biasanya usia remaja itu ingin mencoba segala sesuatu yang baru, mulai muncul berbagai macam gejolak emosi dan banyak timbul masalah baik keluarga maupun lingkungan sosialnya (Gusti, 2014). Kenakalan remaja adalah wujud konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun pada saat remaja.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Artinya adalah remaja masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, yaitu masa di mana terjadi perubahan besar secara fisik, intelektual dan emosional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan (konflik) pada yang bersangkutan, serta menimbulkan konflik dengan lingkungannya (Seifert & Hoffnung, 1987). Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall.

Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Maka oleh karena itu permasalahan yang terjadi saat ini didominasi oleh remaja, kenakalan remaja yang semakin merajalela membuat masyarakat resah.

Kemudian para ahli mengemukakan beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, salah satunya Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik yaitu: Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan, ketidakstabilan emosi, adanya sikap menentang dan menantang orang tua, pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua, kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya, senang bereksplorasi, kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Sebagian remaja mampu mengatasi transisi seperti yang dikatakan oleh Santrock (2003) tadi dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Maka oleh karena itu dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.

Pertama: Permasalahan Fisik dan Kesehatan. Permasalahan ini akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri.

Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha (Dikutip dari Kartika, 2012). Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Herawati (dalam Suprapto dan Aditomo, 2007) melakukan penelitian di Jakarta pada tahun 2003, didapatkan informasi bahwa sebanyak 40% perempuan berusia 18-25 tahun mengalami body dissatisfaction dalam kategori tinggi, dan 38% dalam kategori sedang.

Penelitian yang digagas oleh Harvard University bekerjasama dengan Dove, sebuah merek produk yang berkomitmen terhadap perawatan kecantikan wanita, menyebutkan bahwa hanya 2% wanita di dunia dan tidak sampai 3% wanita Asia yakin dan menganggap diri mereka cantik, di negara Indonesia tidak sampai 40% merasa puas dengan kecantikannya, dalam hal ini arti kecantikan dinilai berdasar perilaku wanita terhadap berberapa hal, salah satunya penampilan tubuh (Moernantyo, 2005).

Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, dan perilaku makan yang maladaptiv. Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia. Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

Kedua: Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang. Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi (Dikutip dari Wulandari & Fitriasih, Uninsula.ac.id). Kemudian terdapat juga karena pengaruh sosial dan interpersonal, termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua; ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua. Kemudian pengaruh budaya dan tata krama; memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, permasalahan moral, nilai, dan agama.

Menurut (Libertus, 2006) bahwa penyebab terjerumusnya remaja dalam penyalahgunaan narkoba disebabkan karena banyak faktor, baik internal maupun eksternal (Dikutip dari Jimmy, 2015):

  1. Faktor Internal : Adalah faktor yang berasal dari diri seseorang. Faktor internal itu sendiri terdiri dari :
  2. Kepribadian : Apabila kepribadian seseorang labil, kurang baik, dan mudah dipengaruhi orang lain maka lebih mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
  3. Keluarga : Jika hubungan dengan keluarga kurang harmonis (Broken Home) maka seseorang akan mudah merasa putus asa dan frustasi. Akibat lebih jauh, orang akhirnya mencari kompensasi diluar rumah dengan menjadi pengguna narkoba.
  4. Ekonomi : Kesulitan mencari pekerjaan menimbulkan keinginan untuk bekerja menjadi pengedar narkoba. Seseorang yang ekonomi cukup mampu, tetapi kurang perhatian yang cukup dari keluarga atau masuk dalam lingkungan yang salah lebih mudah terjerumus jadi pengguna narkoba.
  5. Faktor Eksternal : Yakni faktor penyebab yang berasal dari luar seseorang yang mempengaruhi dalam melakukan suatu tindakan, dalam hal ini penyalahgunaan narkoba, adapun faktor eksternal itu sendiri antara lain :
  6. Pergaulan : Teman sebaya mempunyai pengaruh cukup kuat terjadinya penyalahgunaan narkoba, biasanya berawal dari ikut-ikutan teman. Terlebih bagi seseorang yang memiliki mental dan kepribadian cukup lemah, akan mudah terjerumus.
  7. Sosial /Masyarakat : Lingkungan masyarakat yang baik terkontrol dan memiliki organisasi yang baik akan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba, begitu sebaliknya apabila lingkungan sosial yang cenderung apatis dan tidak mempedulikan keadaan lingkungan sekitar dapat menyebabkan maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja.

Kemudian ketiga: Pacaran dan Seks Bebas. Pacaran termasuk kenakalan anak muda karena ditakutkan mereka yang memadu kasih akan terjerumuskan dalam dunia hitam. Misalnya saja karena sudah terlalu sering berduaan dan akrab satu sama lain, akhirnya hal yang tidak diinginkan pun harus terjadi, seperti hamil mungkin (Ahmad, 2015). Seperti yang dimuat dalam Kompasiana.com, penyebab maraknya pergaulan bebas berdasarkan penelitian di sebuah desa di Indonesia, sekitar 60 hingga 80 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius (Ramadhan, 2016).

Ramadhan (2016) menambahkan bahwa tabel lebih menunjukan banyak nya seks bebas di kalangan anak kos, karena kondisi yang jauh dari bimbingan orang tuanya. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 16-25 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat SLTA atau Mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat SLTP.

Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).

Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi masukan bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.

Penulis adalah Mahasiswi Psikologi Unsyiah