Home / BERITA TERBARU / Ketraumaan Tsunami dan Ketabahan Rakyat Aceh

Ketraumaan Tsunami dan Ketabahan Rakyat Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pasca di terjang tsunami.

Oleh: Sarah Humaira

KLIKKABAR.COM- Trauma merupakan hal yang sering dikaitkan dengan tekanan emosional dan psikologis yang besar. Biasanya diakibatkan oleh suatu kejadian yang sangat disayangkan atau pengalaman yang buruk. Trauma berarti kekagetan jiwa yang dirasakan sangat mencekam dan membawa bekas dalam kehidupan selanjutnya. Misalnya seseorang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas yang parah, ia pastinya merasa cemas juga waswas apabila sedang berpergian di jalan raya yang semrawut.

Orang tersebut masih dihinggapi trauma lalu lintas. Gejala serupa akibat trauma juga terjadi pada kasus lain, seperti dalam perjalanan sejarah masyarakat Aceh. Tulisan ini mencoba menganalisa masalah dengan memfokuskan perhatian kepada trauma jiwa bagi masyarakat Aceh.

Minggu, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat pada waktu 7:58:53 WIB disusul dengan gelombang besar tsunami dengan pusat gempa dekat pulau Sumatra. Tsunami ini melanda Indonesia juga beberapa negara sekitarnya di Samudra Hindia. Di daerah pinggir pantai Aceh, lebih dari 130.000 orang meninggal dan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal. Lebih dari 1.000.000 orang tidak punya rumah dan banyak daerah-daerah yang hancur.

Menurut berbagai hitungan, gempa tersebut berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter dan dengan ini merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Ahli geologi menyebut tsunami 2004 sebagai “gempa monster”. Guncangan gempa ini berlangsung lebih lama dari biasanya.

Kepanikan ini sendiri terjadi dalam durasi yang tercatat paling lama dalam sejarah kegempaan bumi, yaitu sekitar 500-600 detik (sekitar 10 menit) dan dengan ini gelombang Tsunami Desember 2004 dicatat sebagai bencana alam terparah selama sejarah modern. Gempa Aceh merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir. Tahun 1960, sebuah gempa bumi di Chile tercatat berkekuatan 9,5 skala Richter.

Sebuah survei mengatakan bahwa stres pasca tsunami dialami oleh anak-anak. Atas survei yang dilakukan peneliti, ditemukan adanya 3 jenis gangguan kesehatan mental pada orang-orang yang selamat yaitu: 1) Mereka yang selamat dan menderita stres ringan; bisa sembuh dalam beberapa hari. 2) Orang-orang dengan tingkat stres menengah. 3) Orang dengan gangguan mental, terbagi 2 yaitu: gangguan mental ringan dan gangguan mental parah.

Peristiwa gempa dan tsunami ini tidak membuat rakyat Aceh menyerah dalam kesedihan. Mereka tetap menjalani hidup seperti biasa dan belajar untuk memperbaiki semua. Walaupun musibah ini menyisakan begitu banyak kisah duka, masyarakat Aceh tetap gigih dan bersemangat untuk terus tabah dan pantang menyerah dalam menghadapi cobaan hidup. Ketabahan adalah kemampuan manusia untuk dapat mengendalikan emosi dan bertahan dalam keadaan yang kurang menyenangkan secara psikologis.

Istilah dalam psikologi yang dekat dengan istilah ketabahan adalah resiliency. Tabah seperti tabah hati, tetap kuat hati dalam menghadapi segala bahaya, berani menghadapi penderitaan dan bertahan dalam keadaan tertekan sekali pun. Tabah sendiri identik dengan sabar dan kesabaran berada di awal bukan di akhir.

Ketabahan seseorang merupakan hal yang bersifat pribadi karena berkaitan dengan perasaan yang mereka alami dan tentunya mereka membutuhkan metode yang tepat.Adapun faktor pendukung ketabahan, yaitu dengan memaknai arti musibah itu sendiri. Dalam hal ini para korban harus menyadari bahwa sebab dari semua kehilangan ini adalah akibat gempa dan tsunami bukan akibat dari ulah manusia tetapi diakibatkan oleh alam. Apabila mereka terus larut dan menyalahkan diri sendiri atas bencana ini, maka mereka akan terpuruk dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengalami depresi yang sangat berat.

Faktor pendukung ketabahan seperti adanya dukungan dari keluarga dan peran teman dekat. Para korban memaknai arti musibah melalui nilai spiritual dan juga pengalaman spiritual. Sejumlah masyarakat Aceh yang tertimpa musibah tsunami saat itu memang tak hanya membutuhkan obat-obatan.

Mereka juga sangat membutuhkan bantuan psikiater atau pendamping psikologis korban tsunami Aceh untuk mengatasi stres hingga depresi karena kehilangan orang-orang yang dicintai dan juga harta bendanya. Kesehatan jiwa para korban yang baru tertimpa musibah harus diperhatikan. Jika tidak diatasi, akan banyak masyarakat yang mengalami gangguan jiwa berat. Namun, jumlah orang-orang yang menangani masalah kejiwaan di Indonesia jumlahnya masih jauh dari cukup.

Penulis adalah: Mahasiswi Psikologi Unsyiah yang beralamat di Jl.Pangraed II no. 4 Ie Masen Kayee Adang