Home / ACEH / [Opini] Indahnya Payung Raksasa MRB

[Opini] Indahnya Payung Raksasa MRB

Payung elektrik Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. (Muhammad Fadhil/Klikkabar)

*Oleh: Abu Teuming

KATA masjid berasal dari bahasa Arab, yaitu sajada-yasjudu-sujudan yang mengandung arti taat, patuh, dan tunduk dengan hormat. Makna-makna ini diekspresikan secara lahiriah dalam bentuk meletakkan dahi, kedua tangan, lutut dan kaki ke bumi. Tempat yang dibangun khusus untuk melakukan sujud seperti ini dalam keseharian disebut masjid. Dalam ilmu tata bahasa Arab atau gramatikal bahasa Arab kata masjid dinamakan ismu makan, yaitu kata benda, artinya tempat. Jadi masjid berarti tempat bersujud. Inilah pengertian sehari-hari bagi umumnya umat Islam, masjid sebagai bangunan tempat mendirikan shalat bagi umat Islam, (Ahmad Warson Munawwir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia).

Akar kata masjid yaitu sajada, artinya tunduk dan patuh serta taat, maka hakekat masjid itu adalah tempat melakukan segala macam aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT. Dengan kata lain, bahwa masjid itu berarti suatu tempat melakukan segala aktivitas manusia yang mencerminkan nilai-nilai kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, (Ahmad Warson Munawwir, Kamus Bahasa Arab-Indonesia).

Ditinjau dari segi semiotik, makna suatu masjid dapat dipahami berdasarkan bentuk, model dan simbol yang tampak dari masjid itu sendiri. Bentuk dan model fisik bangunan masjid di Indonesia banyak terpengaruh dari budaya Timur Tengah, Turki, dan juga tidak lepas dari pengaruh budaya, adat dan tradisi daerah setempat, sehingga bentuk dan model bangunan masjid di negara-negara yang berpenduduk Islam berbeda-beda. Namun, bentuk dan model bangunan fisik masjid yang banyak di Indonesia ini justru lebih didorong pada simbol sufistik, (Armai Arief; Sejarah Pertumbuhan Lembaga-Lembaga Islam Klasik).

Hal ini disebabkan para tokoh yang membangun masjid itu umumnya adalah para sufi dan wali sebagai muballigh yang akan memberikan pencerahan dan penyejukan hati bagi umat Islam. Misalnya saja, di berbagai daerah di Indonesia banyak dijumpai bangunan fisik dan material masjid yang berbentuk tiga susun atapnya, lalu di atasnya terdapat sebuah kubah kecil dan di tengah-tengah lingkarannya berdiri sebuah menara kecil yang di puncak atasnya terdapat sebuah lambang bulan sabit dan bintang. Bangunan fisik masjid dengan bercirikan model dan bentuk seperti di atas dapat dimaknai sebagai simbol bahwa manusia itu dalam proses persujudan menuju kepada Tuhan.

Lembaga Lajnah Da’imah, yaitu Lembaga Tetap Fatwa Saudi Arabia pernah disampaikan pertanyaan terkait definisi masjid secara bahasa dan secara syar’i. Sehingga mengelurkan fatwa; masjid secara bahasa adalah tempat sujud. Adapun secara syar’i, masjid adalah tempat yang dipersiapkan untuk digunakan shalat lima waktu secara berjamaah oleh kaum muslimin. Terkadang masjid mempunyai arti yang lebih luas. Karenanya, tempat yang dijadikan oleh seseorang di rumahnya untuk melaksanakan shalat sunnah atau shalat wajib berjama’ah juga disebut masjid, sebab tidak mampu shalat di masjid, (Tajuddin Noor Ganie, Tegaknya Masjid Kami).

Rasulullah SAW bersabda; Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku. Aku dimenangkan dengan perasaan takut yang menimpa musuhku dengan jarak sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan suci, siapa pun dari umatku yang menjumpai waktu shalat maka shalatlah, (HR. Bukhari).

Masjid menduduki posisi sentral bagi umat Islam, tidak hanya untuk ibadah shalat, tetapi dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin. Namun fungsi pokok sebuah masjid adalah untuk melakukan ibadah shalat. Walaupun shalat dapat dilakukan di mana saja, karena seluruh tempat di muka bumi Allah ini adalah masjid yang artinya tempat bersujud. Akan tetapi masjid sebagai bangunan rumah ibadah tetap sangat diperlukan karena masjid juga berperan sebagai salah satu simbol eksistensi keberadaan Islam.

Az-Zarkasyi dalam I`lam As-Sajid Bi-Ahkamil Masajid berkata, secara bahasa masjid menunjukkan arti tempat untuk bersujud kepada Tuhan bagi orang beriman. Allah berfirman; Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”, (Q.S. Al-Isra’: 7).

Dalam ayat tersebut diceritakan tentang penghancuran “masjid” di Yerusalem oleh musuh bani Israil. Masjid yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Temple of Yerusalem atau Haikal Sulaiman. Kemudian, secara istilah syar’iyah, masjid merujuk secara khusus pada tempat ibadah umat Islam baik bangunan atau tanpa bangunan masjid di atasnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, masjid merupakan rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam. Allah berfirman; “Dan demikian (pula) kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata; “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata; “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”, (Q.S. Al-Kahfi: 21).

Ayat tersebut juga menjelaskan tentang pembangunan masjid. Sedangkan kisah Ashabul Kahfi terjadi jauh sebelum Nabi Muhammad ada. Jadi yang dimaksud masjid adalah tempat manusia-manusia beriman untuk bersujud serta mentauhidkan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an dan Bibel dikisahkan Nabi Ibrahim membangun Ka’bah sebagai Baitullah. Ibrahim dan Ismail tidak mendirikan Masjidil Haram seperti sekarang, bahkan di masa Kabilah Quraisy banyak sekali bertebaran patung-patung berhala di sekitar Ka’bah.

Dengan demikian, istilah Masjidil Aqsha tidak dimaksudkan sebagai bentuk masjid dalam bentuk jadi setelah dibangun Khalifah Umar. Namun mengacu pada Baitul Maqdis yang juga dibangun Nabi Ibrahim pasca kepulangannya dari Makkah ke Yerusalem. Kata masjid dalam kajian kitab-kitab terdahulu memiliki makna tempat bersujud dalam artian luas. Sedangkan di zaman Nabi Muhammad pembangunan masjid di kota yang ditaklukan tentara muslim mengakibatkan kata tersebut mengalami penyempitan makna menjadi bangunan yang digunakan sebagai tempat bersujud bagi umat Muslim saja.

Masjid Aceh
Hari ini, Aceh memiliki masjid yang gaya arsitekturnya makin menterieng. Ditandai dengan selesainya pembangunan 12 payung raksasa di samping dan depan bangunan induk. Seperti dimaklumi, daya tampung Masjid Raya Baiturrahman tak memadai, alhasil di bawah-bawah payung raksasa yang berlantaikan keramik indah dijadikan tempat untuk bersujud dalam kondisi tertentu. Seperti malam pertama Ramadhan 1438 H, bahkan sampai beberapa malam berikutnya mesjid Raya Baiturrahman masih disesaki para jama’ah shalat tarawih hingga di bawah payung-payung raksasa.

Intinya satu, di bawah payung indah itu dijadikan tempat untuk bersujud kaum muslimin dan melakukan aktifitas ketaatan pada Allah dalam bentuk lainnya. Merujuk pada defenisi masjid di atas, maka jelas bahwa payung-payung raksasa dan lantai keramik tersebut dikategorikan sebagai masjid atau bagian dari masjid. Sebab bangunan megah itu dibangun khusus sebagai tempat bersujud bukan untuk kepentingan lainnya.

Nah!, bila 12 payung yang menawan itu disebut masjid, maka hukum yang berlaku padanya sama dengan masjid pada umumnya. Dimana wanita yang sedang haidh atau orang berjunub dilarang duduk dalam masjid kecuali sekedar lewat saja.

Sebagaimana diketahui, pasca peresmian oleh wakil presiden Jusuf Kalla, Masjid Raya Baiturrahman menjadi daya tarik warga Aceh dari berbagai kabupaten/kota. Tak jarang mereka yang datang ke kuta radja menyempatkan diri singgah di masjid kebanggan rakyat Aceh itu, guna menunaikan shalat walau dua raka’at sunat. Tak jarang pula yang datang hanya untuk selfi-selfi belaka di bawah payung raksasa, bahkan duduk rileks sejenak di bawah payung berlantai keramik sambil menikmati indahnya panorama. Yang jadi permasalahan, tak ada yang jamin ratusan wanita yang masuk area masjid raya itu suci dari haidh, sedangkan singgah dalam masjid bagi yang tubuhnya kotor sangat terlarang.

Kondisi yang sama juga terjadi saat pernikahan dalam masjid, mungkin calon pengantin wanita bisa mengatur jadwal akad nikah dengan masa datang bulannya. Namun bagi undangan wanita tidak terjamin mereka bebas dari haidh lalu masuk dalam mesjid menyaksikan ikatan sakral pernikahan. Ketika bangunan dianggap masjid, banyak hal terlarang dilakukan di dalamnya, termasuk hura-hura dan jual beli. Nyatanya, para fotografer menjalankan bisnis di bawah payung-payung raksasa itu. Bahkan berdasarkan pengamatan ada segelintir orang yang berjualan mainan anak-anak di bawah payung itu.

Berkaca pada itu semua, perlu kiranya penjelasan dari pihak terkait, terutama orang-orang yang kompeten dalam memahami realita tersebut. Supaya masjid yang dianggap rumah Allah tak dijadikan tempat yang justru jauh dari visi misi didiriakannya masjid, terutama orang-orang yang secari syar’i dilarang menetap dan jual beli dalam masjid.[]

*Penulis merupakan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamaten Krueng Barona Jaya, Aceh Besar yang juga anggota FLP Banda Aceh. Email: [email protected]