Home / ACEH / Aceh Serambi Mekkah dan Awal Islam

Aceh Serambi Mekkah dan Awal Islam

Foto : Menatapaceh.com

OLEH: MUHAMMAD ALAIDIN JOHAN SYAH

PASCA peresmian Tugu Titik Nol Islam Nusantara dan peletakan batu prasasti awal mula masuk Islam ke nusantara di Barus, Tapanuli Tengah-Sumatera Utara telah membuat segelintir rakyat Indonesia kebingungan. Betapa tidak, monumen penting itu diresmikan oleh presiden Joko Widodo dalam acara Silaturrahmi Nasional Jami’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) pada 24 Maret 2017.

Sebagai generasi Islam patut saja mereka khawatir, sebab bisa jadi peresmian titik nol Islam sebagai strategi lain untuk menghilangkan jejak Islam di Indonesia, sehingga anak cucu bangsa ini nanti akan meraba-meraba terkait kedatangan Islam ke nusantara. Mirisnya, agenda peresmian Titik Nol Islam Nusantara terjadi pada masa presden Jokowi.

Isu paling ngetrend terjadi adalah terkait Islam, terutama pasca penistaan agama yang dilakukan Ahok, sang patner seperjuangan Jokowi saat memimpin DKI Jakarta. Hal ini menjadi dalang utama kebobrokan sistem pemerintahan Jokowi yang tidak mampu mengendalikan kericuhan antar umat beragama. Dan yang paling menyayat hati rakyat Aceh ketika presiden Jokowi meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara di Barus.

Padahal, sepanjang sejarah presiden RI pertama sampai masa SBY tidak seorang pun mengingkari Islam pertama masuk ke nusantara di Aceh, tepatnya kerajaan Pasai. Tak hanya itu, para ahli sejarah dan peneliti sudah membulatkan kesimpulan bahwa Aceh lah negeri pertama masuknya Islam ke nusantara. Dua tahun setelah Joko Widodo lahir ke dunia, yakni tahun 1963 digelar seminar internasional di Medan dengan tema titik nol Islam Nusantara. Tahun 1978 seminar diadakan di Banda Aceh. Dan 1980 seminar diselenggarakan di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Terakhir tahun 2017 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan tema “Mempertegas Sejarah Awal Islam di Nusantara. Dari serangkaian seminar panjang itu berkuncup pada kesimpulan bahwa Islam pertama kali masuk ke nusantara melalui Peurelak, Aceh Timur, yang dibawa oleh pedagang Gujarat atau Arab. Dan satu hal yang mesti diingat, kesimpulan ini bukan dihasilkan oleh sembarang orang, melainkan ahli dibidang sejarah dan memahami Islam secara utuh.

Dalam pengamatan para ahli arkiolog dan sejarah peradaban Islam, khusunya di nusantara belum menemukan bukti akurat terkait keberadaan titik nol Islam nusantara di Barus. Tak berlebihan jika Prof. Azyumardi Azra menyatakan Titik Nol Islam Nusantara di Barus adalah penyesatan sejarah.

Aceh Serambi Mekkah
Aceh, tepatnya pada abad ke 15 M pernah mendapatkan gelar yang sangat terhormat dari umat Islam di nusantara. Negeri ini dijuluki “Serambi Mekkah” (Seuramoe Meukah), sebuah gelar yang disandang Aceh tentunya sarat dengan nuansa keagamaan, keimanan dan ketaqwaan. Para sejarawan memberikan kontribusi pemikiranya menyangkut masalah ini, menurut analisis mereka ada lima sebab Aceh menyandang gelar mulia itu.

Pertama, Aceh adalah daratan perdana masuknya Islam di Nusantara, tepatnya di kawasan pantai timur, yakni Peureulak dan Pasai. Dari Aceh Islam menyebar sangat cepat ke seluruh nusantara sampai Philipina. Kala itu para Mubaligh Aceh rela meninggalkan kampung halaman demi menyebarkan agama Allah kepada segenap manusia. Sederet urutan Wali Songo yang sangat berjasa menyebarkan Islam ke pulau Jawa termasuk sebagian diantaranya adalah dari Aceh.

Kedua, Aceh pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan di nusantara dengan hadirnya Jami’ah Baiturrahman (Universitas Baiturrahman) dilengkapi dengan bermacam fakultas. Para mahasiswa yang menuntut ilmu di Aceh kala itu datang dari dalam negeri dan penjuru dunia, yakni Turki, Palestina, India, Bangladesh, Pattani, Mindanau, Malaya, Brunei Darussalam dan Makassar.

Ketiga, Kerajaan Aceh Darussalam pernah mendapat pengakuan dari Syarif Mekkah atas nama Khalifah Islam di Turki bahwa Kerajaan Aceh adalah pelindung kerajaan-kerajaan Islam lainnya di tanah nusantara. Karenanya seluruh sultan-sultan nusantara mengakui Sultan Aceh sebagai payung mereka dalam menjalankan tugas kerajaan.

Keempat, daerah Aceh pernah menjadi pangkalan/pelabuhan haji untuk seluruh wilayah nusantara. Umat Islam nusantara yang hendak menunaikan haji ke Mekkah melalui transportasi laut, sebelum mengarungi Samudra Hindia menghabiskan selama enam bulan di Bandar Aceh Darussalam. Kampung-kampung sekitar Pelanggahan sekarang pernah menjadi tempat persinggahan jama’ah haji tempo dulu.

Kelima, banyak persamaan antara Aceh kala itu dengan negeri Mekkah, sama-sama Islam, bermazhab Imam Syafi’i, kental dengan budaya Islam, rakyatnya berpakaian islami dan lebih utamanya berhukum sesuai dengan hukum Islam. Seluruh penduduk Mekkah beragama Islam dan seluruh penduduk Aceh juga beragama Islam. Orang Aceh dalam beragama Islam secara kaffah, (Sumber:  Serambi Indonesia, sekitar tahun 1990-an).

Dua ulama terkemuka Aceh yang namanya diabadikan sebagai kampus jantoeng hate rakyat Aceh,  di masanya juga ikut memberikan komentar. Syaikh Abdurrauf As-Singkily, Aceh dinamakan Serambi Mekkah kerena semua orang Aceh beragama Islam, seperti halnya Mekkah, juga karena dalam Kerajaan Aceh Darussalam diberlakukan hukum Islam. Syaikh Nuruddin Ar-Raniry; Tanah Aceh dinamakan Serambi Mekkah karena Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yakni Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ilmu-ilmu,Tamaddun dan kebudayaan Islam.

Tradisi intelektual di Aceh telah menempatkan Aceh sebagai negara kosmopolit yang menjadi center for islamic studies. Banyak sarjana luar yang datang ke Aceh untuk membina karir di sana. Ini menyebabkan wacana keilmuan sangat dinamis dan kaya. Apalagi pemerintah Aceh memberikan dukungan yang kuat untuk kemajuan pengembangan keilmuan tersebut. Sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang kita saksikan di Aceh saat ini, (Prof. Amirul Hadi).

Berkaca pada literatur di atas, sebelum semuanya terlambat. Sebelum parah ahli sejarah Islam kembali ke hadhirat Tuhan, sepatutnya semua umat Islam di Indonesia bergerak mempertegas kesesatan sejarah awal Islam yang diresmikan presiden. Penobatan Barus sebagai tempat awal mula Islam di nusantara harus segera dicabut, sebab sangat bertentangan dengan catatan sejarah dan apa yang telah diakui oleh masyarakat Islam Indonesia saat ini.

*Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah, Banda Aceh dan Ketua PK KNPI Kota Sigli. Bermukim di gampong Keramat Luar kota Sigli