Home / BERITA TERBARU / (KAPAN) Indonesia Bebas Korupsi ???

(KAPAN) Indonesia Bebas Korupsi ???

Oleh: Muhammad Fadli

KLIKKABAR.COM- Bukan lagi menjadi hal aneh ketika mendengar koruptor ada di Indonesia. Benarkah? Berarti ada yang salah, sebenarnya si pendengarlah yang aneh ketika tidak merasa aneh mendengar kehadiran para koruptor.

Bahkan sampai menganggapnya biasa saja. Indonesia seakan-akan memiliki agen pencetak para generasi koruptor dibelakang layar. Ya, koruptor yang ada di Indonesia datang dari berbagai macam background. Mulai dari pejabat Negara, para staff pegawai hingga seorang tokoh agama sekalipun juga tidak jauh dari perilaku korupsi.

Korupsi seyogyanya bukanlah hal yang harus ditutupi juga dijauhkan dari jangkauan publik. Harus ada transparensi dalam kasus seperti ini.

Adanya kegiatan merugikan Negara ini begitu gencar terjadi di Indonesia. Negara yang dikenal dengan Negara hukum ini seolah-olah mulai merubah nama menjadi Negara koruptor.

Dilihat dari kasus-kasus para koruptor di Indonesia, sejauh ini hukuman yang dikenakan kepada para koruptor tak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Kegiatannya merampas hak orang yang membutuhkan seharusnya dibayarkan dengan kebijakan hukum dengan merampas kenyamanan yang telah dirasakan pelaku korupsi.

Nyatanya?? Ini hanya berlaku pada sebagian koruptor yang ‘miskin’. Belum ada bentuk balasan hukum yang membuat para koruptor jera. Bahkan, mereka seolah-olah menjadi pelajaran bagi generasi koruptor selanjutnya. Inilah yang menyebabkan terjadinya praktik korupsi yang terjadi secara besar dan terus-menerus di Indonesia.

Analogi Korupsi

Hakikatnya, dalam ilmu teknik kimia dipelajarilah bagaimana suatu bahan baku akan menjadi produk yang diinginkan dengan melewati proses yang dilakukan secara baik dan maksimal. Nah, ketika ada bahan baku dengan kualitas baik, akan percuma apabila diberikan perlakuan yang tidak baik pada proses.

Sehingga akan dihasilkanlah produk gagal, yaitu produk yang tidak diinginkan. Alhasil, ini malah merugikan si process engineer. Nah, begitupun terhadap proses terbentuknya koruptor. Sejatinya, para koruptor ini merupakan orang-orang yang baik dan cerdas, orang-orang yang dipilih untuk dibentuk menjadi orang yang dianggap mampu menjalankan tugas dan amanah dengan baik.

Sayangnya, proses membentuk dan mendidik para calon generasi ini salah. Sehingga output ataupun hasil yang diperoleh malah akan menjadi produk gagal. Malah menjadi orang-orang perusak. Malah menjadi orang-orang yang yang tidak diharapkan. Hadirnya mereka malah merugikan Negara.

Korupsi menyangkut persoalan moral dan karakter

Seperti yang dikatakan diatas, perlulah proses dalam membentuk generasi non-koruptor. Bagaimana proses yang diperlakukan pada calon generasi? Mereka ini bukanlah orang-orang bodoh yang harus terus-menerus dibekali dengan ilmu.

Ilmu akan dengan mudah diperoleh mereka selama mereka ingin mencari. Namun, korupsi merupakan permasalahan yang sarat akan moral dan karakter. Sangat diperlukan pembubuhan moral dan pembentukan karakter pada calon generasi.

Ketika mereka dikenalkan dengan moral dan diasupi hal-hal yang menumbuhkan karakter, ini akan menjadi suatu proses yang amat baik. Ketika seseorang telah memiliki karakter, segala keperluan untuk menjadi output yang superb dapat diperoleh. Nantinya karakter akan membentuk akhlak dan juga moral yang indah.

Yang mengerti akan arti iman. Alhasil, kegiatan apapun yang akan dilakukannya, dibuatnya pertimbangan terhadap akibat yang akan terjadi. Sehingga pada dasarnya, pemberian moral baik dan pembentukan  karakter merupakan satu metode dasar yang harus dilakukan pada proses pembentukan generasi non-koruptor.

Analogi pembentukan karakter

Belajar dari kejadian yang telah terjadi. Pembentukan generasi dengan pengenalan moral serta pembentukan karakter harus dilakukan sejak dini. Ada  istilahnya ‘Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat’.

Ini lebih tertuju pada ilmu-ilmu pelajaran. Kita diperintahkan sebaiknya menutut ilmu mulai dari kecil hingga ajal menjemput. Artinya, kita akan mampu menyerap ilmu walaupun berada pada usia yang tidak muda lagi, namun yang membedakan adalah waktu. Ketika seorang muda menuntut ilmu, itu akan lebih efisien dan lebih cepat daripada seorang tua yang baru menuntut ilmu.

Sementara, dibalik istilah lainnya ‘Belajar di waktu kecil bagai melukis diatas batu, belajar sesudah dewasa bagai melukis diatas air’. Setelah ditinjau, hal ini lebih tertuju pada pembentukan karakter. Karakter ini akan mudah dibentuk ketika dilakukan sejak dini. Tidak hanya membentuk, merubah karakter seseorang yang buruk menjadi lebih baik akan dapat dilakukan ketika dimulai dan dilakukan sejak dini.

Ketika sudah beranjak tua, akan sulit membentuk karakter, hal ini dikarenakan, pada dirinya telah ada tertanam kuat moral dan perilaku yang dibentuk sejak kecil. Akan ada rasa nyaman pada kebiasaan dan kepribadian setelah beranjak tua, sehingga ketika diberikan hal-hal pembentuk karakter hanya akan sia-sia.

Mereka akan memantulkan hal pemicu karakter bahkan bisa saja mereka menerimanya namun berada dalam lingkaran kemunafikan dan kebohongan. Analogi yang kuat memang. Bayangkan betapa susahnya membentuk suatu sketsa diatas air.

Begitulah proses pembentukan karakter pada orang yang sudah tua. Hal ini cenderung mustahil untuk dapat dilakukan. Dibandingkan dengan mengukir sketsa diatas batu, cukup mudah apabila dilakukan dengan sedikit usaha yang akan menjadi terbiasa lama-kelamaan, itulah analogi orang yang diberi karakter pada usia dini.

Sekolah sarana pembentuk karakter

Nah, sejak dini. Pemberian karakter dilakukan sejak dini. Untuk memudahkan pemberian karaketer sejak dini, maka pengenalan moral dan pemberian karakter disisipkan pada proses penyerapan ilmu. Proses pembentukan karakter pada anak diberikan sejalan dengan pemberian ilmu pada anak.

Sehingga, pada akhirnya, ilmu pada anak dapat diterapkannya dengan dikawali oleh karakter yang telah dimilikinya. Sekolah merupakan lumbung pemberian asupan yang diharapkan. Lagi-lagi analogi dalam teknik kimia. Sekolah merupakan reaktor yaitu tempat terjadinya reaksi.

Didalam reaktor akan ada proses pembentukan produk yang diinginkan dengan memberikan umpan bahan baku. Nah, di sekolah adalah tempat pembentukan orang-orang generasi yang diinginkan, yaitu diinginkan untuk mengendalikan negara. Di dalam sekolah akan ada terjadi proses pemberian ilmu dan tentunya pembentukan karakter.

Apabila hal-hal itu dilakukan dengan maksimal dan baik. Maka akan dihasilkan keluaran yang juga baik sesuai yang diharapkan. Di dalam reaktor juga ada katalis, yaitu zat kimia yang ditambahkan pada proses reaksi kimia pada reaktor guna mempercepat pembentukan produk semaksimal mungkin tanpa melibatkan katalis menjadi bagian dari produk. Begitupun disekolah.

Disediakan guru sebagai analogi katalis. Kehadiran guru diharapkan dapat mempercepat terjadinya penyerapan ilmu dan juga membantu anak membentuk karakternya. Dengan catatan, para anak yang diharapkan nanti tidak bergantung terhadap gurunya, namun dapat mandiri bahkan menjadi orang yang lebih berkarakter. Seperti keadaan katalis tadi.

Peran sekolah sangat penting. Menerapkan sistem pembentukan karakter dalam setiap mata pelajaran akan mendampingi anak untuk mengaplikasikan ilmunya dengan kawalan.

Pemerintah bisa memulainya dengan menerapkan pemberian karakter pada kurikulumnya. Kurikuum pendidikan berbasis karakter. Haruslah pemerintah tergoyah hatinya melihat para korban akibat koruptor.

Seorang pemimpin yang berkarakter pasti akan menerapkan kurikulum berkarakter pada sekolahan. Apabila masih ada keraguan dan ketakutan untuk menerapkan kurikulum berbasis karakter, ini bukanlah pemimpin berkarakter. Setelah diterapkan, ada baiknya pemerintah mengawasi dan mendampingi perjalanan kurikulum basis karakter ini agar berjalan secara maksimal dan bukan menjadi sebuah omong kosong.

Adanya saat ini, pemerintah seolah lepas tangan terhadap sistem kurikulum berkarakter yang telah ada. Membuat keadaan tidak berjalan efektif dan tidak berjalan maksimal. Tidak bisa seorang process engineer lepas tangan terhadap keadaan proses dalam reaktornya, dia harus mendampingin dan mengawasi kinerja dari reaktor agar tercipta produk yang diingini.

Pemerintah tentu juga berharap hadirnya generasi-generasi non korupsi yang berkarakter, tak terlepas dari itu, pemerintah harus mengawal sistem yang dibuat.

Bebas korupsi

Indonesia sangat membutuhkan generasi non-koruptor, generasi benci koruptor dan generasi perangi koruptor. Ketika semua generasi dari segala background didasari oleh indahnya karakter, maka, akan berjalan suatu kegiatan Negara dengan baik dan teratur.

Meminimalisir permasalahan akibat rampasan hak orang lain.  Ketika ada karakter pada generasi, maka aka nada moral dan akhlak yang baik terbentuk pada diri masing-masing. Alhasil, niat dan kesempatan untuk melakukan korupsi ditindas dengan karakter negarawan. Korupsi merupakan hal aneh yang tidak bisa dianggap hal biasa yang terbentuk secara kontinyu tanpa disadari.

Sifat pendukung terjadinya korupsi terbentuk sejalan dengan proses penyerapan ilmu dengan tanpa adanya asupan karakter. Sehingga terjadilah individu-individu bermutu tanpa karakter. Individu seperti ini yang menjadi pelakon utama dalam kegiatan korupsi. Orang-orang seperti ini tidak akan mendapat tempat bahkan kehadirannya menjadi kerugian Negara. Bayangkan. Betapa hinanya bekerja sebagai koruptor.

Jadi ketika ada pertanyaan, (KAPAN) Indonesia bebas Korupsi ??? Maka, Indonesia akan bebas dari korupsi ketika para generasi memiliki karakter, bukan hanya berilmu pengetahuan. Dimana proses pembentukan karakter ini diberikan sejak dini dengan sekolah sebagai sarana. Dengan demikian akan terbentuk anak-anak generasi yang bermutu dan berkarakter.

Sebab, nyatanya karakter itu lebih tinggi daripada ilmu duniawi. Ketika membentuk karakter, otomatis ilmu pengetahuan akan mengikuti. Sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak akan membentuk karakter, bahkan ilmu pengetahuan mampu mengendalikan orangnya untuk menentang karakter.

Penulis adalah: Mahasiswa Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala

Email : [email protected]