Home / ACEH / Plastik Mendominasi Sampah di Laut

Plastik Mendominasi Sampah di Laut

Zulfikar anggota Sahabat Laut saat memaparkan hasil penelitian sampah di Gedung Dilo lantai dua, Selasa 28 Maret 2017. (Athaillah/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Sampah yang tersebar di laut masih di dominasi oleh sampah plastik, terutama botol plastik bekas. Ini berdasarkan temuan dari Komunitas Sahabat Laut (Saut) saat melakukan pembersihan pantai di Pulau Nasi tempatnya di desa Deudap pada Desember 2016 lalu.

Untuk botol plastik saja Saut berhasil mengkumpulkan 1979 botol minuman plastik yang tersebar di area pantai.

Sri Agustina anggota Saut beranggapan sampah-sampah yang bertebaran di pantai adalah hasil dari pergerakan ombak sehingga berkumpul di suatu tempat.

“Kita berasumsi sampah-sampah yang betebaran di pantai adalah dari luar daerah itu (pulau Nasi) karena jumlah sampah dengan konsumsi plastik oleh masyarakat jauh berbeda, lagi pula pada saat kami ingin membersihkan sampah, masyarakat setempat bingung karena mereka katakan sampah itu pasti ada, menurut arah angin laut,” jelas Tina kepada wartawan pada pemaparan hasil penelitian sampah dan rencana strategis penanggulangan sampah di laut Aceh, di Gedung Dilo lantai 2, Selasa 28 Maret 2017.

Selain 62 persen sampah berasal dari Indonesia, Sampah itu juga di berasal dari negara lain seperti dari Malaysia, China, Swis, dan lainnya, ini dilihat dari asal produk itu diproduksi.

“Kita melihat dari mana produk itu dihasilkan, baru kita beranggapan sampah itu dari mana saja asalnya, karena kita juga melihat presentase turis yang datang berkunjung ke daerah tersebut sedikit,” tambahnya.

Untuk mengurangi produksi sampah botol, Arief anggota Greenpeace Jakarta berpendapat agar pemerintah bisa menyediakan depot air minum isi ulang yang bisa di isi pada botol berkapasitas 600 ml.

“Saya yakin apabila tersedianya depot air yang bisa diisi dengan botol 600 ml dan disediakan di tempat-tempat umum, Bus, taman dan tempat lainnya, ini bisa menekankan produksi botol air mineral,” kata Arif pada saat pemaparan hasil penelitian sampah di gedung Dilo.

Pola kebiasaan hidup masyarakat harus diubah untuk mengurangi sampah ,”ini (kapal) adalah kapal yang disediakan Pemkot Jakarta untuk membersihkan sampah yang ada di laut pulau seribu, dan sampah itu ada setiap hari bahkan bertambah banyak jumlahnya, kita tidak bisa hanya membersihkan, tapi tingkah dan pola masyarakat itu sendiri yang harus di ubah,” sambungnya.[]

REPORTER: ATHAILLAH