Home / ACEH / Ujian Pilkada untuk Keselamatan Hidup

Ujian Pilkada untuk Keselamatan Hidup

OLEH: SAYED FUADI*

KLIKKABAR.COM – MENJELANG 20 Hari lagi penentuan Aceh 1 pada pilkada serentak 2017. Hasil analisis para pakar politik bahkan pendapat saya. Ada dua kandidat calon gubernur yang unggul di atas kertas, yakni nomor urut 5 yang dinahkodai oleh Muzakkir Manaf dan nomor urut 6 Irwandi Yusuf.

Tanpa berbohong, Kita harus mengakui itu, buktinya dapat kita lihat saat kampanye Muzakir Manaf dan TA Khalid pada 11 januari 2017 lalu, begitu tumpah ruahnya masa pendukung pasangan ini. Begitu pula dengan kampanye terbuka pasangan Irwandi dan Nova pada 21 januari 2017 di kabupaten Bireuen juga tak kalah membludaknya masa pendukung.

Hal ini tak luput dari pada latar belakang masing masing calon gubernur, karena keduanya merupakan mantan kombatan Aceh dan nama mereka yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat.

Maka jelas masih banyak rakyat Aceh masih berharap pada kedua sosok ini. Bahkan semakin yakin pula masyarakat berharap pada kandidat ini kerena masing masing mereka terus merangkul para ulama untuk memberikan sinyal kepada pendukungnya bahwa mereka tetap berada di bawah naungan mayoritas masyarakat Aceh.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Rakyat aceh adalah rakyat yang fanatik terhadap keberadaan ulama. Karena bagi orang Aceh ulama merupakan lampu penerang dalam menggapai kesempurnaan menjalani rutinitas ke Islaman.

Beranjak dari sini, sepertinya peta politik semakin menarik. Banyak strategi dan perubahan bagi setiap pendukung. Dari sini beralih mendukung sana dan dari sana bisa saja kelainnya. Hal ini disebabkan bacaan kondisi dari hari ke hari terhadap kekuatan masing masing kandidat dalam Pilkada tahun ini.

Semakin mendekati hari H, maka semakin banyak pula perubahan yang terjadi. Walau alur terus berubah, yang namun setiap kompetisi pasti ada pemenangnya, sekalipun sulit kita terka, karena sewaktu-waktu bisa bergeser, dan Itulah politik. Semuanya di luar dugaan.

Bagi aktor politik yang terpenting dalam menggapai kemenangan dengan menentukan perahu yang menjadi pilihan adalah kuat pertahanan dan kencang lajunya.

Apakah ini semua negatif dalam politik, saya pikir tidak, melainkan hal tersebut wajar-wajar saja, karena mengacu pada pendidikan politik bahwa tujuan politik itu sebenarnya adalah visi misi sekelompok sosial untuk kesejahteraan orang lain, sehingga strategi yang ditempuh harus mengacu pada berbagai alternatif demi kemampuan mengaplikasikan tujuan tadi. Tanpa melihat kondisi dan perioritas, maka akan sangat sulit untuk bergerak menuntaskan visi misi.(Miriam Budiardjo, 1998 : 8).

Namun demikian yang menjadi catatan kita sebagai seorang muslim saat ini adalah jadikan politik sebagai ajang mengasah kemampuan untuk melawan musuh sesungguhnya nanti, bukan malah untuk menumbalkan sesama kita yang seiman dan sebangsa. Karena visi dan misi kita sama, walau persepsi yang berbeda.

Begitupula dengan kehadiran ulama disetiap kandidat, jangan sampai mengarahkan pikiran kita kotor terhadap abu-abu (panggilan ulama kita) tersebut gara-gara politik, karena itu bisa membuat kita jauh dari Islam dan menjerumuskan kita dalam kemusyrikan pada akhirnya. Namun jadikanlah politik itu bersih, karena kehadiran pewaris nabi sebagai panutan kita.

Sehingga mereka ulama boleh saja berbeda, karena setiap ulama telah Allah berikan petunjuk dalam agama. Buktinya selama ini ulama lah para pengarah kebaikan dalam agama kita. Dalam artian banyak orang yang sadar akan arti kehidupan dan berjalan pada garisnya masing masing, adalah mereka para guru guru hasil tempaan para ulama. Tak sedikit mereka pula yang menjadi pemimpin ritual hidup dan mati kita. Perbedaan adalah Rahmat dalam agama ini, asalkan punya dasar ilmu yang cukup.

Lihatlah 4 Imam mujtahid yang berbeda pendapat dalam memberikan mazhab kepada islam. Allah menerima ke empatnya. Dan kita Boleh berbeda dalam memilih ke empat mazhab tersebut. Yang tidak dibolehkan ialah keluar dari ke empatnya.

Dengan demikian jadikan Pilkada sebagai hal yang kesekian dalam dunia ini. Tapi agama dan ulama menjadi yang utama untuk kita berkehidupan. Kemudian Umara atau pemimpin adalah suatu yang tak dapat terpisahkan dalam menjaga kedaulatan negeri dan agama. Sehingga bukan kita saja yang berhak menentukan pilihan terhadap umara itu, lantas ulama kita suruh duduk manis saja tanpa hak untuk bersuara. Tapi mereka para ulama lah yang lebih berhak pertama mengarahkan kita pada pilihan yang mana, sekalipun kita berpandangan lebih mengetahui tentang politik. Tapi politik menjadi tak berharga tanpa didasari oleh agama. Karena poksi untuk menjadikan seseorang santun dan baik adalah spirit agama yang menentukan.

Berjalanlah pada garis yang Allah tentukan, walau dalam suasana Pilkada, jangan lepaskan tangan dari mereka para ulama. Karena kita tak dapat menjamin keselamatan, tanpa panutan dari agama mayoritas yang mereka arahkan. Sehingga jika itu tak kita abaikan, maka insya Allah rasa persatuan dan kesatuan kita ummat muslim khususnya Aceh takkan tergoyahkan. Selalu dalam jalan yang Allah ridhai. Dan kita pun dapat menggapai kesejahteraan yang sesungguhnya. Amin.

*Penulis merupakan Koordinator Forum Politik Cerdas Berintegritas.