Home / ACEH / [Opini] Reorientasi Pengembangan Sektor Perikanan Aceh

[Opini] Reorientasi Pengembangan Sektor Perikanan Aceh

OLEH : IKHSAN 

Dua tahun terakhir, pembangunan kelautan dan perikanan lebih fokus pada perikanan tangkap, kurang mendapat perhatian budidaya perikanan laut dan diposisikan sebagai pinggiran pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan perikanan laut yang kompetitif, berkeadilan, dan berkelanjutan menjadi salah satu dari empat pilar pembangunan. Tentu hal ini didukung dengan berbagai intervensi untuk kelancaran pembagunan sektor perikanan. Permasalah utama dalam budidaya perikanan laut adalah ketergantungan pada impor pakan dengan demikian, seperti diungkapkan Prof. Muchlisin Z.A, bahwa program penempatan sarjana pendamping (sarjana perikanan) perlu dihadirkan untuk membantu para pembudidaya dalam penyediaan pakan alternatif. Guna mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan peran penyuluh dalam memberi penyuluhan kepada para pembudidaya supaya mereka mau, tahu dan mampu meramu dan membuat pakan buatan alternatif dengan menggunakan bahan-bahan lokal setempat yang mudah didapat, murah, alami dan disukai oleh ikan.

Peningkatan Kapasitas Pembudidaya Ikan

Pengetahuan pembudidaya ikan perlu ditingkatkan, mengingat nelayan merupakan komponen terdepan dalam menjaga wilayah perbatasan terutama terhadap praktik illegal fishing yang dilakukan oleh nelayan asing. Ketrampilan pembudidaya ikan masih rendah, Saat ini pihak pemerintah hanya memberi bantuan berupa bibit tampa paket pelatihan yang lengkap. Pemerintah perlu menghadirkan sosok penyuluh untuk memberikan penyuluhan tentang peningkatan ketrampilan membuat pakan, penanganan hama dan penyakit dan peningkatan kapasitas pembudidaya ikan dapat tercapai, agar pembudidaya ikan dapat menolong diri sendiri, tidak lagi terkesan dengan bermodal semangat dan ingin coba-coba saja dalam budidaya perikanan laut. Untuk memajukan budidaya perikanan laut, perlu adanya riset yang merupakan dapur untuk meramu berbagai racikan inovasi yang selalu ditunggu-tunggu para pembudidaya ikan, memalui hasil riset mampu membangun sistem budidaya perikanan laut ke arah lebih baik.

Potensi sumber daya kelautan dan perikanan menjadikan sektor ini sebagai batu brilian perekonomian masyarakat, yang dapat mendukung sektor perindustrian dan perdagangan. Meningkatnya status implementasi perikanan dan kelautan, diharapkan dapat menggerakkan daerah ini menjadi wilayah industri perikanan tangkap dan budidaya perikanan laut, yang sejalan dengan pembangunan kelautan dan perikanan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.

Mari kita merujuk ke negara kecil Norwegia dengan luas wilayah 385.199 Km2 hanya mempunyai garis pantai sepanjang 83.000 km. Norwegia merupakan pemasok ikan dan produk ikan terbesar di Eropa. Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir, nilai ekspor ikan negara kecil ini meningkat dua kali mencapai 30 milyar NOK. Hampir mencapai 95% hasil produk ikan yang diekspor. Negara yang beribukota Oslo tersebut berhasil memanfaatkan bisnis budidaya ikannya hingga USD10 miliar per tahunnya. Di sisi lain, Norwegia merupakan negara yang maju didalam industri perikanan. Kemampuan negara ini dalam mensejahterakan warga negaranya dengan memaksimalkan potensi perikanan dan kelautan yang dimilikinya, dapat dijadikan contoh (role model) oleh bangsa manapun tentang bagaimana manajemen perikanan yang baik. Dengan PDB (produk domestik bruto) per kapita sebesar 83.485, negara ini menempati posisi kedua Negara dengan PDB terbesar di dunia,

Menurut pakar perdagangan dan lingkungan Herjuno Ndaru Kinasih ada tiga jenis integrasi dalam perekonomian di Norwegia yang berdampak pada kinerja sektor perikanan. Tiga jenis integrasi itu adalah integrasi aktor, integrasi sistem, dan integrasi pengetahuan. Menurut pandangan saya, integrasi tersebut merupakan hubungan yang sinergis antara aktor atau para pelaku usaha budidaya perikanan mulai dari para pembudidaya ikan, pemerintahan, pihak swasta (industri) baik yang konsen dalam bidang budidaya perikanan.

Langkah Strategi Pembangunan Budidaya Perikanan Laut

Pertama, integrasi aktor merupakan ranah teknis dalam pengelolaan budidaya perikanan laut. Di Norwegia, sebagian besar masyarakat yang menekuni budidaya perikanan tergabung dalam wadah koperasi. Bahkan di Norwegia antara satu koperasi dengan koperasi lainnya terkadang berjalan beriringan. Pembentukan komunal itu bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan perekonomian budidaya perikanan laut . Guna memperluas jaringan, di koperasi-koperasi yang ada terintegrasi dalam mengekspor hasil produksi. Misalnya, untuk menyewa sebuah kapal pengangkut ikan ke negara tetangga, sebuah koperasi harus memenuhi kuota pengiriman minimal sekian ton. Karena tidak mencukupi kuota, maka koperasi tersebut mencari mitra yang juga melakukan ekspor dengan tujuan yang sama agar biaya pengiriman dapat ditekan.

Hubungan yang terjalin antara pembudidaya ikan dengan aktor-aktor seperti yang sudah disebutkan diatas. Dalam permodalan, Bank atau pemerintah harus bisa memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan dengan tidak memberatkan. Dalam upaya pengelolaan, misalkan saja penyedian benih dan pakan, sektor industri menyalurkan produk-produk berkualitasnya. Kemudian dalam hal distribusi, peran media dan jasa transportasi harus memudahkan pembudidaya ikan menyalurkan hasil produksi ke tangan konsumen.

Kedua, integrasi sistem merupakan packing dari semua proses yang terjadi dalam proses produksi, distribusi, maupun konsumsi. Keterhubungan ketiganya bisa berjalan dengan baik tentu dibutuhkan peraturan dan pengawasan yang baik pula. Di Norwegia, industri perikanan dan pejabat perikanan bekerja sama dalam menyusun peraturan. Dengan begitu aturan-aturan yang dibuat sesuai dengan kondisi dan tujuan bersama masing-masing aktor dapat dicapai. Kemudian, terkait pengawasan, penegakan hukum di Norwegia benar-benar ditegakkan. Direktorat Perikanan bertanggung jawab untuk mengkontrol jumlah ikan yang ditangkap dan menjaga statistik perikanan.

Ketiga, integrasi pengetahuan, hasil riset menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di sektor perikanan Norwegia dan juga dikaitkan dengan berbagai hubungan ilmu pengetahuan lainnya. Misalkan, hubungan budidaya perikanan dengan teknologi perikanan, teknologi angkutan, pemasaran, dan kajian para akademisi dalam pengembangan budidaya perikanan laut. Norwegia memang diakui dunia karena keahliannya dalam bidang peralatan laut, perkapalan, dan kemampuan untuk mengekploitasi pasar-pasar baru. Ekonomi kelautan Norwegia mencakup keseluruhan industri yang berkembang dan berhubungan dengan perkapalan dan industri akuakultur dimana mencakup beragam jenis produk dan layanan. Tak melulu tentang teknologi, di Norwegia juga mensyaratkan pengetahuan tentang ukuran bibit, komposisi umur, distribusi dan lingkungan tempat hidup. Tiap tahun, data dari survei sains Norwegia dan para pembudidaya ikan dibandingkan dengan data dari Negara lain dan dinilai oleh International Council for Exploration of the Sea (ICES).

Pengetahuan pembudidaya ikan sangat penting, merupakan bagian dari pengetahuan pengelolaan budidaya perikanan laut. Dalam upaya ini, baik pemerintah, swasta atau lembaga lain bisa memberikan kontribusi dalam meningkatkan pengetahuan para pembudidaya ikan. Dengan berbagai program, mulai dari program pendidikan lanjut tentang perikanan laut melalui jalur akademis, pemerintah melalui dinas-dinas terkait yang bergerak dari hulu ke hilir berperan aktif mendampingi pembudidaya ikan. Swasta juga bisa terlibat, jadi tidak hanya swasta lepas begitu saja kalau tidak menyangkut urusan perdagangan.

Seperti halnya, bila program penepatan pendamping (sarjana perikanan) dan penyuluh dapat dihadirkan oleh pihak pemerintah untuk membantu pembudidaya ikan mengatasi permasalahannya. Peran sarjana perikanan memciptakan inovasi baru (pakan) yang selama ini menjadi permasalahan besar pada budidaya perikanan laut dan kinerja penyuluh dapat mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mau, tahu dan mampu meramu sendiri pakan alternatif. Kinerja penyuluh perikanan yang baik merupakan dambaan setiap stakeholder perikanan. Pembudidaya yang berada pada garis kemiskinan merupakan ciri bahwa penyuluhan perikanan masih perlu untuk terus meningkatkan perannya dalam rangka membantu pembudidaya memecahkan masalah mereka sendiri terutama dalam aspek usahatani perikanan laut. Diharapkan dengan sinerginya ketiga aspek di atas, budidaya perikanan laut dapat mensejahterakan para pembudidaya ikan.

Penulis merupakan Peneliti Bidang Ilmu Sosial Lembaga Kajian Strategis dan Pembangunan Aceh (LEMKASPA)