Home / ACEH / Guncangan 6,5 SR di Pidie Jaya Tidak Robohkan Masjid Kuno Aceh Ini

Guncangan 6,5 SR di Pidie Jaya Tidak Robohkan Masjid Kuno Aceh Ini

Masjid Teungku Di Pucok Krueng (Maksalmina/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Tragedi bencana gempa bumi berkekuatan 6,5 Skala Richter di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh menyebabkan banyak bangunan yang roboh. Tapi tidak dengan masjid satu ini.

Sebuah masjid yang terbuat dari kayu yang sangat bagus masih berdiri kokoh dengan ukiran mewah yang dimilikinya. Hanya dinding sebelah barat yang terbuat dari beton saja runtuh. Masjid Teungku Di Pucok Krueng namanya.

Berusia hampir 394 tahun, membuat masjid ini begitu dikenal oleh masyarakat luas. Apalagi letaknya yang begitu strategis di pinggir jalan raya, lintas Banda Aceh-Medan (dari arah barat) atau memasuki Kecamatan Meureudu, terdapat dua masjid dalam satu kompleks yang langsung terlihat oleh siapa saja yang melintas di kawasan itu, tepatnya di Desa Beuracan, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

(Maksalmina/Klikkabar)

Masjid tua dengan arsitek klasik ini, dibangun oleh Teungku Abdussalam (ada yang menyebutkan Abdussalim) dan kerap dikenal dengan Teungku Chik Di Pucok Krueng. Nama Teungku Di Pucok Krueng inilah yang ditabalkan pada masjid tertua di Meureudu.

Meski berada di pinggiran Sungai Krueng Beuracan yang kerap meluap setiap musim hujan, masjid Teungku Di Pucok Krueng selalu terhindar dari genangan air banjir. Di masjid ini juga terdapat sebuah guci dari Madinah yang dikeramatkan oleh banyak warga. Tak heran, banyak warga sekitar dan bahkan dari luar daerah bernazar mengambil air tersebut sebagai penawar segala penyakit.

Namun, ada larangan mengambil air di guci tersebut bagi wanita yang sedang berhalangan. Larangan itu bisa dibaca dengan jelas pada tulisan yang dipajang di depan masjid.

“Jika guci keramat ini didekati oleh kaum hawa yang sedang berhalangan, maka air akan bau bahkan bangkai kucing atau tikus akan mengapung dalam air guci pada malam hari,” ujar Tgk. Bakhtiar Hasyem selaku juru pelihara masjid kepada klikkabar.com, Jumat 16 Desember 2016.

Dikatakan, pada saat gempa 7 Desember 2016 melanda Pidie Jaya, masjid ini ikut terkena akibat guncangan. Dinding yang terbuat dari beton ikut ambruk, begitupun dinding kayu bagian atas juga jatuh sebagian. Juga sedikit lantai keramik rusak, 16 tiang masih peyangga masih kokoh berdiri dalamnya.

“Hanya saja sisi barat dari masjid mereng dan sedikit turun,” ujarnya.

(Maksalmina/Klikkabar)

Ia melanjutkan, sebelumnya antara masjid lama dan baru terdapat beton penghubung yang bisa digunakan sebagai tempat shalat. Namun setelah gempa melanda, beton tersebut hancur dan berlubang sekitar 2 meter ke bawah.

Menurut Tgk. Bakhtiar Hasyem selaku juru pelihara masjid Teungku Di Pucok Krueng didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 M-1636 M. Saat itu dibangun tiga masjid yaitu, Masjid Beuracan, Masjid Kuta Batee dan Masjid Madinah di Kecamatan Meurah Dua yang merupakan pecahan dari kecamatan Meureudu.

Masjid Teungku Di Pucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya selain digunakan warga Beuracan juga digunakan oleh warga ditiga kemukiman, Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh.

Pada tahun 1622 Masehi atas kesepakatan semua masyarakat Beuracan, masjid ini didirikan. Mengingat pertimbangan memudahkan dalam pengambilan wudhu karena bersisian dengan sungai. Pada tahun 1947 masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat).

Pada tahun 1990 berawal dari simpati Prof. Dr. H. Ibrahim Hasan, MBA selaku Gubernur Aceh yang shalat di masjid Teungku Di Pucok Krueng. Ia meminta kepada kepada pengurus masjid untuk melestarikan bentuk dan keaslian masjid tersebut karena mengundang unsur keunikan dan menjadi bukti sejarah umat Islam di kemukiman Beuracan.

Untuk mewujudkan hasrat baik tersebut Gubernur menyerahkan bantuan sebesar Rp. 10.000.000 9 (sepuluh juta rupiah) dengan pengawasan pihak arkeologi dari kanwil P dan K Daerah Istimewa Aceh bidang purbakala. Masjid Beuracan berhasil direhap dengan memberikan dinding kayu pada sekeliling masjid dari kayu yang terukir dikerjakan oleh Utoeh Aiyub Desa Grong-Grong Beuracan.

Pendiri masjid Teungku Di Pucok Krueng, Tgk Abdussalim, merupakan seorang yang ahli dalam bidang pertanian dengan sebutan Poh Roh alias Peugeut Blang (cetak sawah baru). Di masanya, Teungku Di Pucok Kreung ini mampu merintis sebanyak 25 yok (1 Yok sama dengan 1 hektare) areal persawahan yang dijadikan sebagai aset milik pengelola masjid atau lazim disebut Tanoh Meusara yang dikelola untuk kemakmuran masjid.

(Maksalmina/Klikkabar)

Usaha perluasan areal persawahan terus dirintis bersama masyarakat setempat sehingga membuat Sultan Iskandar Muda sempat tercengang melihat terobosan Teungku Di Pucok Krueng yang membuka lahan baru di Gunung Raweu, yang terletak antara Meureudue, Pidie Jaya dengan Geumpang Kabupaten Pidie.

Kala itu, Sultan Iskandar Muda penasaran karena seluruh bala tentara yang dipimpin Panglima Malem Dagang dan Tgk Japakeh sudah berkumpul untuk memerangi kerajaan Johor, Malaysia. Tapi, Teungku Di Pucok Krueng tak berada di tempat. Sehingga Sultan Iskandar Muda dengan mengendarai Gajah Putih mengirim utusan untuk menjemput Tgk Abdussalim.

Namun, gajah putih tersebut tak mau bergerak dan memberi isyarat dengan mengangkat belalai sabagai tanda istirahat. Gajah putih itu istirahat di Gampong Bie, Kecamatan Meurah Dua. Nama Meurah Dua ini ditambalkan dari dua gajah rombongan Sultan Iskandar Muda yang duduk menanti kepulangan Tgk Di Pucok Krueng. Demikian juga nama Meureudu diambil dari nama Meurah Du artinya gajah duduk.

Hingga saat ini, makam Teungku Di Pucok Krueng belum diketahui secara persis. Meski tiga kuburan di kaki Pucok Krueng, Meureudu sudah dipastikan bukanlah beliau.

“Sebab, menurut cerita turun temurun, Tgk Abdussalam saat itu menghilang ke arah barat tanpa kembali,” demikian Tgk Bakhtiar Hasyem.[]

REPORTER: MAKSALMINA