Home / ACEH / Menjemput Sang Pemimpin Serambi Mekkah

Menjemput Sang Pemimpin Serambi Mekkah

picsart_12-05-11-52-56

OLEH: INDAH PUTRI SANURA*

JABATAN kini telah mengobsesi kehidupan banyak orang. Menurut pemahaman mereka tidak lengkap rasanya selagi hayat di kandung badan, kalau tidak pernah menjadi orang penting, dihormati dan dihargai  dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kini kepemimpinan dipandang sebagai sebuah “aset”, karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi presiden, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian banyak orang orang.

Berbeda dengan seorang pemimpin yang bersahaja, seorang pejabat, bukan sembarang pejabat. Sejarah mencatatnya sebagai gubernur teladan sepanjang zaman dari tanah tandus arabia. Hingga ketakwaannya telah membuat Umar selaku khalifah menangis, dialah Said bin Amir Al Jumahi

Kala itu, pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khathab, Said bin Amir diangkat menjadi gubernur. Umar Mengamanahkan kepadanya untuk menjadi Gubernur Kota Homs, salah satu kota di Syam.

Namun Said menjawab “Wahai Umar, dengan nama Allah aku memohon kepadamu agar mencoret namaku.” Maka Umar marah, dan dia berkata, “Celaka kalian, kalian meletakkan perkara ini di pundakku kemudian kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu’’

Aku akan menetapkan gaji untukmu “kata Umar. Said menjawab, “Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian dari Baitul Maal kepadaku melebihi kebutuhanku.” Said pun berangkat ke Homsh menunaikan tugasnya

Sungguh jawaban yang tidak disangka keluar dari mulut Said bin Amir. Dia tidak mengiginkan pengabdiannya kepada asyarakat dinilai dengan materi. Apakah karna beliau orang kaya?, tentu bukan, ia hanyalah insan yang sederhana dan mengabdikan hidupnya buat melayani warganya.

Ketika Amirul Mukminin meminta orang kepercayaannya menuliskan nama-nama orang miskin di kota Horms untuk diberikan bantuan, nama Said Bin Amir terdapat di dalam daftar tersebut. Umar Terkaget. “Siapa Said Bin Amir ?“ tanya Umar Memastikan. Mereka Menjawab “Dia gubernur kami“, lantas Umar menegaskan, “gubernur kalian miskin?”.

Mereka menjawab, “benar di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama.” Maka Umar menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, kemudian dia mengambil seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong. Umar berkata, “Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.

Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar bin Khatthab. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar, maka dia menyingkirkannya seraya berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau perkara berat.

“Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku, sebuat fitnah telah menerpa rumahku.” Ucapnya. Maka Said mengambil dinar itu, memasukkannya ke dalam kantong-kantong dan membagi-baginya kepada kaum muslimin yang miskin.

Said bin Amir Al jumahi hidup bagaikan contoh pemimpin yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan PahalaNya atas segala keinginan hawa nafsunya. Dia tidak menggunakan jabatannya sebagai wadah untuk menampung segala macam kemewahan. Lalu dapatkah kita temukan di zaman sekarang sosok pemimpin yang di rindukan layak nya Said bin Amir Aljumahi?

Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yang pertama adalah Shidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya, lawannya adalah bohong.

Kedua, Amanah yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. Sedangkan yang ketiga adalah Fathanah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh.

Dan keempat yang terakhir adalah Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Pilkada 2017 serentak yang berlangsung di Aceh dan Indonesia menjadi kesempatan untuk kita memilih sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, maka gunakanlah hak pilih sebaik baiknya. Sikap Politik kita sangat menentukan arah pemimpin masa depan.

Selaku Putri berdarah Aceh, saya mengajak warga Aceh untuk menentukan pilihan yang tepat pada calon Gubernur Aceh periode 2017-2022, mari kita lihat amati dan teliti rekam jejak calon Gubernur Aceh, setidaknya referensi Al-Qur`an dalam memilih pemimpin menjadi landasan pijakan kita.

Ingat salah dalam menentukan pilihan akan berakibat fatal selama lima Tahun kedepan. Semoga saja Aceh akan melahirkan sosok Pemimpin Yang dirindukan rakyat dan diridhai Allah SWT layaknya Said Bin Amir Aljumahi. Wallahu `alam bishawab.

*Penulis adalah Mahasiswi Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah dan Hukum, UIN Ar-Raniry.