Home / ACEH / Catatan Refleksi 4 Desember untuk Para Pejuang

Catatan Refleksi 4 Desember untuk Para Pejuang

Sayed fuadi

OLEH: SAYED FUADI

KLIKKABAR.COM – GAM merupakan singkatan dari Gerakan Aceh Merdeka. Dibentuknya GAM oleh Tgk Muhammad Hasan Di Tiro pada 4 Desember 1976 tepatnya 40 tahun yang lalu, bukan tak beralasan bagi seorang Wali Nanggroe.

Ideologi keacehan menjadi spirit saat itu dalam mengajak para pejuang untuk siap mati. Artinya Gerakan Aceh Merdeka dibentuk, guna mengembalikan hakikat Aceh sebagai negeri berdaulat yang pernah dipimpin oleh raja-raja terkenal dalam sejarah catatan dunia.

Namun yang menjadi catatannya adalah Dibentuknya GAM bukan semata untuk berperang, akan tetapi gerakan ini dibentuk demi misi kesejahteraan rakyat dan mengembalikan Aceh pada hakikatnya.

Bersenjata hanya modal untuk mempertahankan diri dari pihak yang tidak setuju terhadap pejuang kedaulatan Aceh. Selebihnya semua orang menginginkan apa yang disuarakan dikabulkan. Dan bukan sekedar bersuara tanpa dasar yang jelas. Aceh memiliki sejarah besar atas berdirinya Indonesia. Jadi wajar orang Aceh bersatu mendeklarasikan suatu gerakan di bukit Halimun Pidie demi dihargainya Aceh di republik ini.

Pisah menjadi jalan terakhir jika RI tak sepaham lagi dengan Aceh, makanya gerakan yang dibentuk oleh Tgk Hasan Tiro ini resmi berdamai dengan RI pada 15 Agustus 2005 di Helsinki Firlandia. Jadi bagi orang Aceh, kalau masih bisa berdamai tapi merdeka dalam mengelola pemerintahan sendiri. Kenapa harus terus berperang.

Jadi perdamaian saya pikir telah memberikan kemerdekaan untuk Aceh yang mandiri. Pusat pun sangat mendukung hal itu. Buktinya dapat dilihat dari banyaknya kunjuran dana yang terus mengalir ke Aceh dalam mengejar ketertinggalan akibat konflik.

Namun yang menjadi PR hari ini adalah, ada di tangan kita para pejuang Aceh sendiri. Sepertinya kita butuh kebersamaan dalam merawat dan menjaga Aceh ini. Karena Semua kita punya misi yang sama untuk Aceh. Mengapa kita harus saling mengklaim bahwa kita lah yang paling berhak memajukan Aceh. Bukankah kerja ikhlas menjadi harapan endatu kita selalu.

Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Abdullah Syafi'i bersama sejumlah pasukannya di dalam hutan saat bergerilya | Foto: Istimewa

Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Abdullah Syafi’i bersama sejumlah pasukannya di dalam hutan saat bergerilya | Foto: Istimewa

Dalam perang senjata kita bisa bersatu demi Aceh. Lantas kenapa Hari ini ketika kita dihadapakan pada posisi melawan kemiskinan dan sebagainya, membuat kita lemah sehingga harus saling menyalahkan. Rakyat dan Aceh selalu menginginkan pejuang yang betul betul cinta dan tulus dalam bergerak.

Dengan demikian saya pikir seremoni 4 Desember ini penting untuk selalu diadakan setiap tahunnya, guna mengenang bagaimana sulitnya suatu proses perjuangan menuju kemenangan. Namun yang lebih penting adalah bagaimana seremoni yang diperingati selalu, harus memberikan dampak dan sentuhan hati untuk terus berjuang demi Aceh.

Walau tanpa senjata lagi, pena bisa menjadi modal untuk segalanya demi melanjutkan perjuangan yang telah kita mulai dulunya. Kemudian juga dibutuhkan bersatunya kita semua, baik itu para pejuang, orang kaya, umara, ulama, pemuda dan sebagainya. Sehingga ini Menjadi awal perjuangan baru yang di mulai dari peringatan 4 Desember ini.

Kita harus mengenang berapa banyak anak yatim dan janda yang telah menjadi korban karena perjuangan dulunya. Mari kita bayar itu semua dengan menghadirkan kesejahteraan Aceh bak negeri yang berdaulat seperti dulunya.

Penulis merupakan Koordinator Politik Cerdas Berintegritas (FPCB) Aceh, Mahasiswa Fakultas Syariah dan hukum UIN Ar-Raniry.