Home / ACEH / [Opini] Menata Pendidikan Aceh

[Opini] Menata Pendidikan Aceh

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Oleh : Nurjannah

Aceh adalah salah satu propinsi yang diberikan hak istimewa di bandingkan dengan propinsi yang lain, yaitu Aceh di berikan Hak Istimewa dengan diberikan dana otonomi khusus atau yang lebih dengan dana (otsus), dana otsus ini diperoleh setelah sebelumnya Gerakan Aceh Merdeka yang merupakan perjuangan rakyat Aceh menuntut untuk diberikan Hak bagi propinsi Aceh untuk menentukan sikapnya (self determene)untuk merdeka secara seutuhnya sehingga membuat pemerintah RI menjadikan Aceh sebagai daerah Operasi Militer. Singkat cerita, akhirnya GAM  dan RI berunding yang menghasilkan MOU Helsinki ataupun kesepatan damai antara GAM dan RI.

Hasil kesepatan damai ini di raih atau berhasil dicapai akibat sebelumnya Aceh di landa oleh musibah yang begitu dasyat yaitu naiknya air laut ke permukaan atau sekarang ini dikenal dengan sebutan Tsunami, dimana musibah Tsunami ini telah berhasil membuat kedua pihak yang bertikai yaitu GAM dan RI, untuk berdamai, dimana kedua pihak ini khususnya pihak GAM yang  melihat bahwa Aceh butuh bantuan dunia internasional, dan dunia internasional pun sudah menyiapkan bantuannya yang bisa dipergunakan Aceh agar dapat bangkit seperti dahulu kala.

Penulis akan membawa pembaca untuk fleskback sedikit ke belakang, dimana ternyata konflik ini membuat segi pendidikan dan beberapa segi lainnya tertinggal, dalam hal ini penulis hanya memfokuskan pembahasan di dalam segi pendidikan saja. Dimana pendidikan kita pada masa konflik itu tidak tertata dengan rapi dan ternyata hal ini juga berefek hingga sekarang, lihat saja pada pelaksanaan UN tahun 2013/2014 Aceh menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan tingkat ketidaklulusan peserta Ujian Nasional (UN) tertinggi di Indonesia. tercatat 785 siswa SMA/sederajatnya di sana gagal UN tahun 2013/2014 atau terbanyak bila dibandingkan 34 provinsi yang ada. (oke zone 2015/05/20). Hasil UN ini menunjukkan bahwa tata kelola pendidikan di Aceh kurang baik. Apalagi pada tahun tersebut, UN merupakan tahap evaluasi yang sangat jitu untuk menilai pelaksanaan proses Pendidikan di Aceh.

Negara dengan Sistem Pendidikan yang Baik

Apabila kita mengacu kepada sistem pendidikan di dunia saat ini, maka negara yang menepati peringkat satu atau yang tertinggi ialah negara Finlandia, di mana negara tersebut memiliki tata kelola yang terstruktur dengan rapi, diantaranya, pertama,di negara finlandia seorang anak tidak akan dimasukan ke dalam sekolah apabila belum memasuki usia 7 tahun, dan sekarang negara Indonesia sudah mulai menerapkan hal ini, apabila sebelumnya hampir rata-rata masyarakat Indonesia dan Aceh memasukan anaknya pada usia 5 atau 6 tahun, di mana mingset  yang berkembang semakin cepat di masukan ke dalam sekolah maka akan semakin baik, sebenarnya apabila kita cermati hal itu maka, itu tidaklah sesuai, dimana anak yang baru berusia 5 atau 6 tahun sudah diberikan beban yang begitu berat, sehingga bukannnya berkembang malah semakin tertinggal.

Yang Kedua, negara ini tidak mengakur kemampuan  murid hanya selama enam tahun pertama, sedangkan di Indonesia dan juga di Aceh  murid sering di takuti pihak sekolah dengan beebagai macam soal yang pada hakikatnya soal, ini tidak pernah dijelaskan ataupun diajarkan.

Ketiga, Di negara ini, tidak ada kelas unggulan, artinya tidak ada pengkhususan pada satu kelas saja, sehingga semua kelas memiliki kemampuan yang sama, di Indonesia dan Aceh pada awalnya memiliki sistem kelas unggulan, diaman anak-anak yang dikatagorikan pintar di tempatkan pada satu tempat atau pada satu kelas, sehingga di kelas ini berkumpul orang-orang pintar, namun di kelas laginya hanya tinggal orang-orang yang di katagorikan memiliki kemampuan biasa, sehingga tidak melahirkan generasi yang memiliki kemampuan yang sama. Walaupun sekarang ini sistem itu tidak berlaku lagi di Indonesia tapi hal tersebut sempat lahir ataupun berlangsung cukup lama.

Dan Yang Terakhir, Negara ini memiliki kelas Sains yang siswanya hanya berjumlah 16 orang, dengan jumlah siswa seperti ini tentunya memiliki kelebihan, yaitu akan mempermudah siswa di dalam melaksanakan eksperimen.

Menata Pendidikan di Aceh

Tentunya menata Pendidikan di Aceh dengan baik bukanlah pekerjaan yang mudah namun perlu juga di pertegas bahwa menata pendidikan dengan baik di Aceh bukanlah suatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Menurut hemat penulis ada beberapa cara yang cocok untuk di terapkan untuk menata pendidikan di Aceh dengan baik Pertama, membenahi sistem dengan baik dan sesuai dengan karakter masyarakat Aceh, di mana menurut hemat penulis sistem merupakan suatu komponen yang sangat penting di dalam mendorong tercapainya pendidikan dengan baik, karena sistem ini di ibiratkan sebagai suatu tali, dimana tali ini bisa mengukur ukuran suatu benda begituhalnya juga dengan sistem, dimana sistem ini  bisa menjadi tali untuk mengukur arah pendidikan yang ada di Aceh, apakah pendidikan sudah sesuai dengan harapan ataupun belum.

Kedua, memberikan porsi pelajaran sesuai dengan karakter daerahnya, dimana porsi disini memiliki makna bahwa porsi pelajaran di sesuaikan dengan kelebihan daerahnya misalnya di daerah Aceh Timur memiliki kekayaan di sektor minyak maka siswanya di sini lebih diarahkan untuk menjadi ahli di bidang miyak, sehingga kekayaan minyak yang berada di Aceh Timur bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Aceh Timur, dan tidak dijadikan lahan untuk memperkaya diri, dan tentunya akan sangat berbeda apabila minyak ini dipegang oleh  warga negara Asing, maka sudah barang tentu minyak ini di jadikan untuk memperkaya negara mereka. Oleh karenanya porsi pelajaran harus sesuai dengan karakter daerahnya.

Dengan demikian tata kelola pendidikan Aceh yang baik bisa mewujudkan Aceh yang lebih baik daripada sebelumnya, kemana pun kita pergi tentunya tidak ada satupun yang menyanggap bahwa kesejahteraan dan kemakmuran itu di peroleh lewat pendidikan yang baik. Semoga Aceh ke depan lebih baik, dengan perbaikan di dalam tata kelola pendidikan. Ammin

Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Syiah Kuala