Home / ACEH / FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia

FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia

Gajah yang ditemukan mati beberapa waktu lalu di pedalaman Aceh Timur. (Zamzami Ali/Klikkabar).

Gajah yang ditemukan mati beberapa waktu lalu di pedalaman Aceh Timur. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar).

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Deforestasi yang terus terjadi sejak puluhan tahun terakhir di Aceh berdampak luas pada pengurangan habitat dan populasi gajah Sumatera. Deforestasi diyakini merupakan faktor utama pemicu terjadinya konflik gajah dengan manusia.

Deforestasi dapat diartikan sebagai proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non hutan seperti pembukaan lahan dan pembukaan jalan baru serta pembangunan lainnya.

Hal tersebut dikatakan oleh Manager Forum Konservasi Leuser (FKL) Rudi Putra, kepada Klikkabar.com saat meninjau upaya penggiringan kawanan gajah liar di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur beberapa waktu lalu.

“Defortasi mengakibatkan gajah seolah kehilangan habitatnya.Tidak ada ruang yang jelas juga membuat gajah ‘kebingungan’ sehingga memasuki pemukiman penduduk,” kata Rudi Putra, Kamis 13 Oktober 2016.

Lebih lanjut Rudi Putra juga menjelaskan bahwa hutan Aceh sejatinya merupakan habitat terbaik gajah Sumatera yang populasinya diperkirakan hanya tinggal 1700 ekor dengan 500 diantaranya berada di wilayah Aceh.

Populasi gajah yang semakin kritis dan berada di ambang kepunahan dikatakannya juga menjadi tanggung jawab semua pihak untuk membantu menyelamatkan habitat serta populasi gajah Sumatera.

“Konflik ini menimbulkan kerugian, baik di pihak gajah maupun manusia. Secara ekonomi, konflik yang ditimbulkan merugikan pemilik lahan pertanian milik warga akibat di obrak-abrik oleh gajah. Sedangkan di sisi lain, banyak gajah yang ditemukan terluka atau bahkan mati terbunuh akibat konflik yang terus terjadi,” jelasnya.

Menurunnya populasi gajah, sangat merugikan karena berdampak pada terganggunya proses regenarasi hutan. Dimana dalam hal ini, gajah sejatinya dapat membantu menyebarkan benih-benih tanaman hutan sehingga dapat membuat hutan pulih dari kerusakan yang terjadi selama ini.

“Kita berharap tidak ada lagi korban yang timbul akibat konflik ini. Tugas kita semua, bagaimana mengatur dan menjaga mana wilayah atau lahan yang bisa dikembangkan untuk masyarakat serta wilayah dan ruang untuk habitat gajah,” timpalnya.

REPORTER : ZAMZAMI ALI