Home / ACEH / Cerita Guru Berhonor “Lillahitaala” di Pedalaman Aceh Utara

Cerita Guru Berhonor “Lillahitaala” di Pedalaman Aceh Utara

Pelajar MTs S Alue Mudek, di Desa Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa 3 Mei 2016. (KOMPAS.COM/MASRIADI)

Pelajar MTs S Alue Mudek, di Desa Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa 3 Mei 2016. (KOMPAS.COM/MASRIADI)

KLIKKABAR.COM – Empat ruang kelas berdiri di Desa Teupin Rusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa 3 Mei 2016. Di hamparan penuh rerumputan itu, berdiri Madrasah Tsnawiyah Swasta (MTs S) Alue Ie Mudek.

Foto Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta burung garuda terpajang di dinding sebelah kanan. Sebuah karton berwarna biru berisi jadwal piket harian pelajar juga terpasang di dinding.

Di madrasah yang didirikan 10 tahun lalu itu, terdapat empat ruangan. Satu ruang kelas permanen dibangun Pemerintah Aceh Utara pada 2006. Satu lainnya dibangun oleh Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia Aceh Utara.

Sementara itu, dua ruangan lainnya terbuat dari papan seadanya. Masing-masing ruangan berukuran 10 x 7 meter. Dinding bolong-bolong, bahkan sebagian dinding terbuka dan beratap seng.

Di bawah atap seng itu, puluhan pelajar melakukan aktivitas belajar. Panas dari seng dan angin dari dinding bolong menjadi keseharian para pelajar.

“Dua ruang seadanya itu saya bangun dengan dana patungan. Uangnya kita ambil dari mana saja. Terpenting kelas itu bisa berdiri tegak. Dulu tiangnya harus ditopang agar tidak roboh. Saya khawatir roboh dan melukai anak-anak,” kata Kepala MTs S Alue Ie Mudek, Rusniati, kepada Kompas.com.

Saat ini, sebanyak 91 pelajar dari kelas I hingga kelas III menimba ilmu di madrasah itu. Dari empat ruang, satu ruang digunakan untuk guru dan kepala sekolah. Sepuluh orang guru mendapatkan honor “lillahitaala” alias seadanya untuk berbakti di madrasah itu.

“Mengapa disebut guru lillahitaala? Itu ungkapan populer di kalangan guru yang tidak memiliki gaji tetap, hanya dibayar dengan honor seadanya. Di sekolah ini hanya saya yang pegawai negeri sipil,” kata Rusni.

Pelajar di sekolah itu merupakan lulusan MIN Alue Ie Mudek dan SDN 20 Alue Krueng, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Letaknya di perbukitan dan pedalaman Aceh Utara.

“Guru kami di sini hanya dibayar Rp 250.000 per bulan. Dibayarkan enam bulan atau setahun sekali dari Kementerian Agama RI Jakarta. Dengan dana itu, para guru ikhlas mengajar anak-anak ini,” katanya.

Untuk mendapatkan ruang kelas dengan bangunan yang permanen, Rusni mengaku sudah membawa proposal ke sejumlah kantor pemerintah di Aceh Utara dan Pemerintah Aceh.

Bahkan, beberapa perusahaan juga dimintai dana untuk membangun ruang permanen agar pelajar itu nyaman belajar. Namun, upaya itu gagal.

“Saya letih. Tahun ini saya tidak membuat proposal lagi untuk meminta bangunan permanen. Kami bertahan dengan fasilitas seadanya di pedalaman ini,” ucapnya.

Dia mengatakan, perhatian pemerintah terhadap sekolah itu seumpama sekolah itu adalah “anak tiri dari istri kelima”.

“Saya lelah mengajukan proposal pembangunan ruang kelas. Semoga pemerintah bisa terbuka hatinya membangun gedung di sekolah ini. Kami terus bertahan untuk mendidik anak bangsa,” katanya.

Ini secuil kisah memilukan pendidikan di bumi Samudera Pase.** (Kompas)