Home / ACEH / Pakar Kesehatan: Visi Kesehatan Abusyik Sufi Logis dan Realistis

Pakar Kesehatan: Visi Kesehatan Abusyik Sufi Logis dan Realistis

Dr. dr. Muhsin Abdul Gani, pakar dan praktisi kesehatan Aceh.

Dr. dr. Muhsin Abdul Gani, pakar dan praktisi kesehatan Aceh.

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Visi kesehatan bakal calon Bupati Pidie periode 2017-2022, Abusyik Sufi alias Roni Ahmad, sangat logis, realistis serta bisa diterapkan untuk mencapai kesejahteraan Kabupaten Pidie khususnya dalam bidang kesehatan.

Hal ini dikemukakan oleh pakar dan praktisi kesehatan Aceh yang juga doktor alumni Jerman, Dr. dr. Muhsin Abdul Gani ketika disambangi di kantor Bappeda Provinsi Aceh kawasan Simpang Lima Banda Aceh, Senin 18 April 2016.

Dr. Muhsin yang juga salah seorang putra daerah Pidie ini menyebutkan dirinya pernah beberapa kali berdiskusi masalah kesehatan di kabupaten Pidie dengan Abusyik Sufi berserta tim perumus visi misi. Dalam diskusi tersebut, Dr. Muhsin mengaku kagum dengan Jargon “Pidie Sehat 2020” yang dikemukakan oleh Abusyik Sufi yang diantaranya menitikberatkan pada program preventif, tidak hanya pada program kuratif semata.

“Pengembangan sektor kesehatan dewasa ini lebih menitikberatkan pada upaya-upaya pencegahan (preventif) dan promosi kesehatan (promotif). Upaya pengobatan (kuratif) melalui asuransi kesehatan universal semisal Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA) memang sangat penting mengingat tingginya angka kesakitan masyarakat serta ketidakmampuan masyarakat membiayai pengobatannya.

Tetapi yang perlu diingat adalah program preventif menghabiskan biaya lebih sedikit dibandingkan upaya kuratif tetapi menghasilkan outcome lebih baik daripada hanya mengobati masyarakat. “Saya kagum Abusyik Sufi beserta tim sadar akan hal ini serta memasukkannya dalam visi dan program kampanye beliau”, ujar lelaki yang mendapatkan gelar doktor dari University of Bonn, Jerman pada usia 30 tahun ini.

Seperti kita ketahui, sejak tahun 2010, Pemerintah Aceh menganggarkan sekitar setengah triliun rupiah dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) setiap tahunnya untuk membiayai program asuransi kesehatan kepada seluruh rakyat Aceh yang dikenal dengan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang kemudian diubah namanya menjadi JKRA pada tahun 2012 oleh gubernur terpilih saat itu.

Walaupun dana yang dikucurkan sangat besar, efektifitas program asuransi kesehatan universal ini masih banyak dipertanyakan oleh berbagai kalangan, terutama mengingat belum membaiknya indikator kesehatan yang masuk dalam Indeks Pengembangan Manusia (IPM), seperti Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Lebih lanjut Dr. Muhsin menambahkan bahwa dirinya yakin program “Pidie Sehat 2020” yang digadang oleh Abusyik Sufi akan disambut positif oleh masyarakat Pidie.

“Tahun 2020 adalah tahun penting bagi program kesehatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia juga telah mencanangkan eliminasi berbagai penyakit menular pada tahun 2020 untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sehat pada tahun tersebut.

Kabupaten Pidie yang termasuk dalam kabupaten dengan angka IPM yang termasuk rendah di Indonesia sudah sewajarnya bekerja lebih giat untuk mengejar ketertinggalan daerah, khususnya dalam bidang kesehatan. Saya percaya Abusyik Sufi mampu mewujudkannya jika dipercaya menjadi pimpinan di kabupaten tercinta”, tambah pria yang merupakan supervisor nasional program eliminasi penyakit kaki gajah (filariasis) ini. []