Home / ACEH / Wajah Pelayanan Kesehatan Aceh dan Tanggung Jawab Pemerintah

Wajah Pelayanan Kesehatan Aceh dan Tanggung Jawab Pemerintah

Misran Wakil Presiden

OLEH: MISRAN

Di sebuah berita cetak yang terbit di Aceh, pada 30 maret 2016 sangat menarik bagi saya, terus terang halaman pertama di koran tersebut sangat menarik dimana dibagian paling atas, ada berita bahagia bagi universitas yang terkemuka di Aceh yang baru saja mendapatkan akreditasi “A”pada Fakultas Kedokteran, dimana “A” adalah angka istimewa yang menunjukkan bahwa akan adanya kepastian input dan output mahasiswa yang masuk ke Fakultas Kedokteran tersebut akan dapat dipastikan juga menjadi lulusan yang unggul di bidang kedokteran dan juga akan menjadi dokter yang unggul di masa depan.

Namun berita baik itu tidak bertahan lama, ketika saya melihat sedikit ke bagian bawah, tepat di tengah halaman depan ada berita yang sangat bertolak belakang dengan berita diatas, yaitu berita duka dimana seorang ibu dan anaknya meninggal dunia ketika proses persalinan, dan ini disebabkan karena lambatnya penanganan terhadap pasien tersebut sehingga mengakibatkan kematian bagi pasien tersebut.

Seperti diberitakan di Klikkabar.com, bahwa Suriyani warga Gampong Lambatee, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar meninggal dunia bersama bayi yang baru dilahirkannnya di salah satu rumah sakit di Banda Aceh pada Selasa pagi 29 Maret 2016. Istri dari Muslem tersebut meninggal setelah anak ketiga yang baru dilahirkannya meninggal lebih dulu setalah melahirkan. Menurut pengakuan suaminya, Suryani bersalin di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh. Muslem juga mengaku istrinya sempat terkatung-katung di rumah sakit setempat dan akhirnya dirujuk ke RSUZA Banda Aceh.

 

Berita ini seakan menjadi antitesis terhadap kabar berita akreditasi “A” Fakultas Kedokteran pada kampus yang sangat terkemuka di Aceh, ini adalah tamparan keras bagi pelayanan kesehatan di aceh sekarang, apakah makin bagusnya pendidikan di bidang kedokteran di Aceh tidak sejalan dengan layanan kesehatan di Aceh, hal ini sebenarnya sering terjadi akan tetapi hanya sebagian saja yang terblow-up ke permukaan, ada yang salah diantara dua hal penting ini dimana seharusnya pelayanan kesehatan sudah semakin baik sejalan dengan naiknya akreditasi Fakultas Kedokteran di kampus terkemuka di Aceh.

Mungkin saja pola pikir masyarakat di indonesia yang masih saja mendewakan profesi sebagai dokter, sehingga seakan masyarakat yang membutuhkan dokter dan masyarakat yang butuh rumah sakit, masyarakat juga yang butuh obat ketika sakit, sebenarnya sudah sangat jelas dokter dan rumah sakit yang harus melayani masyarakat, seperti yang terjadi pada lembaga keuangan seperti bank, pegadaian dan perusahaan asuransi, mereka merasa butuh masyarakat sehingga ada tim pemasaran yang turun ke masyarakat untuk menawarkan produk-produk keuangan dan pembiayaan kepada masyarakat. Namun kita tidak bisa semudah itu merubah pola pikir tersebut, cara sederhana mungkin dengan cara memperbaiki pelayanan kesehatan di Aceh. Tidak adanya pandang bulu apakah dia miskin atau kaya, jika memang dia harus dilayani sebaiknya harus langsung ditangani tidak saja dibiarkan begitu saja.

Hal ini juga tidak terlepas dari etika sebagai dokter atau praktisi yang belum bisa dibilang mumpuni, dengan pelayanan yang seadanya dan seakan tidak profesional, dimana para praktisi kesehatan ini masih saja mengaggap mereka sebagai dewa yang berhak menyembuhkan para pasien yang datang pada mereka, dampaknya juga masih banyak masyarakat yang enggan berobat ke rumah sakit atau ke dokter, mereka malah memilih kepada pengobatan alternatif, dimana pelayanan yang diberikan oleh mereka lebih baik, dan etika yang perlihatkan lebih cocok dengan gaya masyarakat pada umumnya.

Sudah seharusnya pemerintah dan pihak yang memiliki otoritas dibidang kesehatan untuk kembali memperbaiki kondisi kesehatan yang seperti ini dan harus adanya revolusi pada pelayanan kesehatan di Aceh, dan kembali meningkatkan pelayananya kepada masyarakat pada umumnya, tidak boleh adanya lagi ketimpangan pada pelayanan kesehatan, tidak ada perbedaaan pelayanan bagi masyarakat yang kaya dan juga miskin.

Di sisi lain, memang benar langkah, rezeki, pertuan dan maut itu merupakan urusan Allah yang bersifat rahasia, namun ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, mengingat dalam Islam kewajiban berikhtiar harus dilakukan oleh mereka para medis sampai pada titik akhir untuk menyelamatkan nyawa- nyawa manusia bukan binatang yang tidak berdosa.

*Penulis Merupakan Wakil Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh