Home / ACEH / Konflik Sebabkan Kemunduran, Aceh Harus Bangkit Lagi

Konflik Sebabkan Kemunduran, Aceh Harus Bangkit Lagi

war aceh

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Sejarah konflik berkepanjangan di Aceh diharapkan bisa menjadi pelajaran berharga bagi para generasi muda di Tanah Recong. Sebab, konflik ratusan tahun yang pernah terjadi di Aceh sejak masa kolonial Belanda lalu, bukan hanya mengakibatkan kemunduran di bidang ekonomi dan sosial saja, namun juga menghambat pengembangan ilmu pengetahuan atau intelektualisme. Untuk itu, para generasi muda di daerah Serambi Mekah harus bangkit lagi membangun Aceh agar bisa mencapai kejayaan seperti yang pernah dicapai Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Muda.

Pokok pikiran tersebut dipaparkan dua tokoh daerah Provinsi Aceh, Tgk H A Rahman Kaoy (Wakil Ketua Majelis Adat Aceh) dan T. Makmur Mohammad Zein (salah satu tokoh Badan Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh) ketika ditemui terpisah di rumah masing-masing, kemarin. Kedua tokoh itu yakin, Aceh akan bisa bangkit lagi jika para generasi mudanya mau berjuang keras dengan mengedepankan intelektualisme, ilmu pengetahuan dan mampu mencegah timbulnya konflik senjata.

Pentingnya Persatuan dan Ilmu Pengetahuan

Menurut Rahman Kaoy, Aceh termasuk memiliki kekayaan alam melimpah. Pada masa kerajaan lalu, di Aceh bisa terbangun kerukunan hidup cukup baik. Masuknya Islam ke Aceh sendiri, jelas Rahman Kaoy, berjalan dengan penuh kedamaian. Penduduk Aceh yang dulunya beragama Hindu dan Budha dapat beralih masuk Islam dengan suka rela tanpa ada kekerasan. Hubungan baik antara masyarakat Aceh dengan pendatang dari Arab tersebut mendorong tumbuhnya perkampungan yang membesar menjadi Kerajaan-Kerajaan Islam sebagai pengganti Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha. Bahkan, pada masa Kerajaan Aceh Darussalam bisa mencapai kejayaan di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1606 – 1636 M).

Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, lanjut Rahman Kaoy, kondisi sosial ekonomi di Aceh bisa berkembang dengan baik. Ilmu pengetahuan juga dapat berkembang dengan baik hingga ada ilmu lingkungan yang diterapkan dalam aturan hukum (qanun). Selain bisa berkembang sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dan tamaddun di Asia Tenggara, Kerajaan Aceh Darussalam bisa tumbuh mencapai kejayaan hingga disebut kerajaan Islam terbesar kelima di dunia.

Namun, lanjut Rahman Kaoy, sejak kedatangan kolonial Belanda kedamaian Aceh jadi terganggu dan banyak terjadi konflik akibat politik adu domba. Meski masa penjajahan Belanda di Indonesia telah berakhir, konflik di Aceh terus berlanjut. Konflik yang melanda Aceh selama sekitar 124 tahun itu, kata Rahman Kaoy, membuat Aceh tertinggal dalam pembangunan berbagai bidang. Untuk itu, Rahman Kaoy berharap, para generasi muda Aceh harus banyak belajar dari sejarah kelam itu.
Tokoh dakwah Aceh yang juga dikenal dengan julukan “Singa Podium” ini punya keyakinan bahwa Aceh bisa mencapai kejayaan lagi jika para generasi muda mau banyak belajar ilmu pengetahuan tentang agama dan ilmu pengetahuan umum. “500 tahun lalu di Aceh sudah diajarkan ilmu lingkungan, ilmu kelautan atau ilmu kenegaraan. Generasi sekarang harus belajar keras lagi agar Aceh bisa lebih maju,” jelasnya.

Perjuangan Pembangunan Kesehatan di Aceh
Pendapat serupa juga dipaparkan dr T. Makmur Mohammad Zein (salah satu tokoh Badan Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh). T Makmur sangat berharap, para generasi muda Aceh bisa bangkit lebih maju lagi dengan berbekal ilmu pengetahuan umum, ilmu pengetahuan agama dan persatuan.

Ketika bertugas sebagai petugas medis di Aceh pada dekade 1970-an lalu, menurut T. Makmur, kondisi daerah Aceh cukup memprihatinkan. Selain banyak orang kurang mampu, kondisi kesehatan masyarakat juga cukup buruk. Angka kematian ibu dan anak tinggi, banyak penyakit menular dan banyak gangguan pencernakan. Namun, petugas medis di Aceh saat itu masih sangat kurang.

Berangkat dari masalah itulah, pada tahun 1978 lalu, T Makmur Mohammad Zein bersama dr Nek Muhammad (Direktur RSU Banda Aceh) dan Muhammad Hasan Basri (Sekwilda Daerah Istimewa Aceh) berinisiasi mendirikan lembaga pendidikan kesehatan di Aceh. Gagasan pendirian lembaga pendidikan kesehatan itu, semula hanya diobrolkan bertiga antara dr T Makmur Mohammad Zein, dr Nek Muhammad (Direktur RSU Banda Aceh) dan Muhammad Hasan Basri (Sekwilda Daerah Istimewa Aceh). “Ketika itu kami belum tahu, gagasan pendirian lembaga pendidikan kesehatan itu akan diwujudkan dalam bentuk apa. Universitas Syiah Kuala sendiri belum punya inisiatif mendirikan program pendidikan kesehatan,” kenang T Makmur.

Dr H Nek Muhammad MPH (kedua dari kiri)

Dr H Nek Muhammad MPH (kedua dari kiri)

Namun, lanjut T Makmur, setelah gagasan mereka bertiga disampaikan kepada Gubernur Aceh kala itu, akhir mendapat persetujuan hingga dibentuklah Badan Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh. Jumlah orang yang terlibat dalam Badan Persiapan Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh cukup banyak, yakni terdiri 17 orang anggota di Aceh, 8 orang tim inti dan 45 orang pendukung dari berbagai universitas di Indonesia. “17 orang anggota itu melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia, 8 orang tim inti melambangkan bulan Agustus dan 45 orang pendukung melambangkan tahun 1945,” jelas T Makmur.

IMG-20151215-WA0027

T Makmur

Pada awal prosesnya, T Makmur dan dr Nek Muhammad melakukan studi banding ke berbagai universitas yang memiliki fakultas kedokteran. Setelah melalui proses persiapan cukup panjang dan mendapat persetujuan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef, upaya pembentukan lembaga pendidikan kesehatan tersebut akhirnya bisa terwujud dengan diresmikannya pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dengan berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 16 tahun 1982. Sejak itulah, pendidikan bidang kesehatan di Aceh mulai berkembang. Dengan adanya pendidikan kesehatan inilah, T Makmur dan dr Nek Muhammad berharap kebutuhan tenaga kesehatan di Aceh dapat dipenuhi. Sedang pembangunan kesehatan dapat berjalan lebih baik. (TELE)