Home / ACEH / Jembatan Ambruk, Sebulan Lebih Warga Linge Terpaksa Gunakan Jembatan Tali

Jembatan Ambruk, Sebulan Lebih Warga Linge Terpaksa Gunakan Jembatan Tali

warga-kampung-mungkur-kecamatan-linge_20151124_112205

Warga kampung Mungkur, Kecamatan Linge saat melintasi jembatan tali di kawasan mereka. Foto Serambi Indonesia/Mahyadi

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Warga Kampung Mungkur, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah harus memanfaatkan jembatan lumpe atau seutas tali baja sebagai akses penyeberangan menuju areal perkebunan. Jembatan yang menghubungkan desa dengan area pertanian dan peternakan itu telah hancur diterjang banjir bandang pada 18 Oktober 2015 lalu.

Dilaporkan, seutas tali baja seukuran jari kelingking orang dewasa, membentang menyeberangi sungai sejauh 15 meter. Di antara tali baja terpasang tiga unit snap block (roda) yang menjadi motor penggerak untuk mengangkut warga, termasuk sepeda motor untuk menyeberang.

Mungkin bentuknya hampir serupa dengan skyway (gondola atau kereta gantung). Tapi “gondola” yang ada di Kampung Mungkur, dibuat seadanya, bahka jika ada kesalahan sedikit saja, warga bisa terjun ke dalam sungai yang dipenuhi batu serta arus yang deras.

Tetapi selama jembatan di daerah itu putus, masyarakat memanfaatkan lumpe tersebut, untuk menuju areal perkebunan, termasuk kawasan areal Peternakan Ketapang III yang baru dikembangkan Pemkab Aceh Tengah bulan ini, seusai Ketapang I dan II dinilai gagal.

Namun keberadaan jembatan sangat darurat itu bermanfaat bagi warga untuk mengangkut hasil bumi. “Beginilah keseharian warga, karena jika tidak ada tali baja ini, mana bisa warga pergi ke kebun,” kata Genap, Reje (kepala kampung) Mungkur kepada Serambi, Minggu 22 November pagi.

Dia menyatakan jembatan yang hanyut diterjang banjir bulan lalu sedang diperbaiki, tetapi dibutuhkan waktu beberapa bulan. “Kalau pagi sama sore, banyak yang ngantre, apalagi hari Minggu, karena di seberang sana merupakan areal kebun warga, termasuk lokasi Peternakan Ketapang III,” sebut Genap.

Dia mengakui untuk perbaikan jembatan yang ambruk terkendala untuk dengan material yang masih sangat sulit. “Kita ambil batunya dari dalam sungai. Kalau sungai meluap, sulit untuk mendapatkan batu untuk pembangunan jembatan ini,” terang Genap.

Selain menggunakan jembatan lumpe, sarana jalan menuju kawasan itu, juga masih sangat memprihatinkan. Ruas jalan yang beraspal hanya sampai Kampung Pantan Nangka, sedangkan dari Kampung Genteng, Mungkur dan Kampung Gewat kondisinya sangat memprihatinkan.

“Untuk menuju Kampung Gewat, belum bisa ditembus, apalagi kondisi cuaca seperti sekarang, sulit sekali ke Kampung Gewat,” ujar Genap. Beberapa warga Kampung Genteng dan Kampung Mungkur yang dijumpai Serambi, Minggu lalu, juga mengeluhkan kondisi serupa karena jalan ke kampung mereka belum juga tersentuh perbaikan.

Pasalnya, jalan yang melintasi beberapa kampung di daerah itu, belum tersentuh aspal. Bahkan untuk menembus kampung tersebut, dibutuhkan kendaraan bertenaga ekstra. “Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, untuk pembenahan ruas jalan di kampung kami ini,” ujar salah seorang warga.

Berdasarkan amatan Serambi, menuju Kampung Mungkur, Kecamatan Linge dari Kota Takengon, membutuhkan waktu perjalanan sekitar dua jam. Menuju kawasan itu harus melintasi hutan Bur Lintang yang sebagian mulai gundul. Ketika tiba di jalanan berkelok dan menurun menuju Kampung Isak yang menjadi ibukota Kecamatan Linge, terlihat barisan pohon damar menghampar luas.

Akibat akses menuju kawasan itu masih sangat sulit, maka warga juga sulit mengangkut hasil pertanian. Selain kopi, warga di daerah itu, juga mengembangkan tanaman kapulaga di beberapa kampung Kecamatan Linge. Uniknya, di kawasan itu juga terdapat pohon kurma yang juga berbuah meski tak sesubur di Timur Tengah. [] Sumber: Serambi Indonesia