Home / BERITA TERBARU / Editorial: Sudahkah Aceh Damai?

Editorial: Sudahkah Aceh Damai?

111107043915_perundingan_damai_helsinki_512x288_bbc_nocredit
KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH –
Damai.., Sebuah kata yang begitu berarti di Aceh, kenapa tidak? Setelah puluhan tahun Aceh hidup dalam dentuman senjata, pengungsi yang terlunta-lunta dan kekerasan yang terjadi dimana-mana.

Kini, usia damai itu telah mencapai 10  tahun. Damai  selalu diartikan sebagai sebuah ketiadaan perang. Namun  ada sebuah ungkapan yang menyebutkan  damai bukan hanya ketiadaan perang, tapi damai adalah ketika keadilan dapat ditegakkan.

Keadilan dalam  hukum, 10 tahun ke belakang. Apakah masyarakat Aceh sudah  mendapatkan  keadilan dalam hukum? Bukankah masih  begitu banyak para korban  konflik, baik  janda yang ditinggal suami ataupun anak yang kehilangan ayahnya, duka mereka  belum  terobati seperti yang tertuang di atas kertas MoU Helsinki.

Dalam bidang politik, apakah rakyat Aceh sudah mendapatkan keadilan? Setiap Pilkada atau Pileg maupun Pilpres, selalu menjadi moment yang menakutkan di Aceh. Intimidasi masih terus mewarnai aroma perpolitikan di Aceh, belum lagi korban nyawa yang harus melayang saat pesta demokrasi.

Ataukah kita ingin berbicara dengan  keadilan  ekonomi di Aceh?  Ini yang paling  miris, ketika Aceh dinobatkan  sebagai daerah modal, sebagai daerah  yang kaya, namun ternyata  di Aceh masih ada masyarakat yang tak bisa  makan sehari-hari, dan  masih begitu banyak rumah yang tak layal huni. Jangan melihat  mobil yang lalu lalang  di Aceh, tapi liatlah  bagaimana perjuangan  hidup  para orang di desa. Aceh kaya tapi dinikmati oleh para elit  atau  orang-orang yang dekat dengan  kue APBA.

Mungkin kita ingin  beralih melihat sisi keadilan sosial  di Aceh? Sejauh ini pemerintah kota atau kabupaten berlomba-lomba untuk mengusir para pencari sedekah  di jalanan dan  juga menggusur para pedagang yang  katanya mengganggu keindahan kota. Tapi apakah  cara itu telah manusiawi?

Dan, terakhir.. Di  puncak peringatan damai 10 tahun di Aceh. Pantaskah kita katakan Aceh telah  damai? Semoga hati nurani kita tidak berbohong untuk  menjawabnya, hanya  karena  satu gelar DR (HC) yang dinobatkan.